Senin, 27 April 2015

Teruntuk Kamu yang Di Sana - part 4

Teruntuk kamu yang di sana
hai lagi, apa kabar?
masih bahagia kan :)

teruntuk kamu yang di sana
ah aku masih menuliskanmu 
kamu yang ada di kesadaran dan ketidaksadaranku

teruntuk kamu yang di sana
sudah bosankah dengannya?
bukankah kamu mudah bosan? 

teruntuk kamu yang di sana
kamu yang menjadi pinjaman kesana kemari
tidakkah lelah dan ingin kembali?

teruntuk kamu yang di sana
kau tau tempatmu kembali kan?
iya aku
karna kau selalu kembali kepadaku

teruntuk kamu yang di sana
ah iya! 
bagaimana bila kau tak kembali padaku?

teruntuk kamu yang di sana
bila kau tak kembali padaku,
bagaimana bila kujodohkan anakku dan anakmu nanti?

teruntuk kamu yang di sana
bila anak kita tak berjodoh,
bagaimana bila anakku kunamai namamu?

teruntuk kamu yang disana?
ah mungkin lebih baik bila kau dan aku saja
sehingga tak ada perjodohan antara anak kita, 
tapi cukup kita

teruntuk kamu yang di sana
tertawakah kau membacanya?
karna aku mencoba melawan arus air kita

teruntuk kamu yang di sana
meski saat ini aliran air kita kembali terpisah
aku mencoba menjadi ikan yang melawan arus
untuk dapat berenang mengikuti arusmu

teruntuk kamu yang di sana
awan masih putih, langitpun masih biru
pun denganku masih menunggumu (lagi)

teruntuk kamu yang di sana
ya hanya untuk kamu yang di sana
seorang yang hadir di kesadaran dan ketidaksadaranku


teruntuk kamu yang di sana
Denny Cessario Sutrisno :)

Minggu, 26 April 2015

Pamer atau menunjukkan eksistensi


Selamat malaaam. hari ini saya baca semua coretan dari salah seorang teman di sebuah sosial media,
yaa sebetulnya tulisan semacam itu udah sering ada, cuman karna baca lagi dan merasa tergelitik akhirnya coret coret lagi deh disini ~~

jadi, disitu di bahas ...........
 "orang yang udah dewasa itu kalo pacaran nggak mau nunjukin di depan umum, nggak banyak drama" 
ya kurang lebih gitulah intinya. lalu dimana permasalahannya?

pro kontra siiih, disatu sisi saya setuju aja dengan pernyataan macam itu.
Setuju dengan alasan, iya udah dewasa pacaran bukan ajang buat pamer kemesraan dll, pacaran untuk tujuan yang lebih serius, yaitu pernikahan. ya meskipun di dalam agama saya nggak mengenal istilah pacaran. betul kaan :)

nah tapi yang ganjel lagi gini,
masalahnya kalo pacarmu ditutupin terus kapan kamu mau memunculkan eksistensinya? nanti kalo tau tau udah nikah?
emmm sebagai seorang wanita tentu saya nggak mau doong digituin, siapa yang mau?
simpel sih, karna nggak semua orang mau disembunyiin apapun tujuannya. kalo emang katanya sayang, serius, knapa nggak dikenalin ke orang terdekat misalnya, kenapa masih harus ditutupin?
nah terlebih lagi sekarang banyak orang yang semacam memanfaatkan istilah "selama janur kuning belum melengkung mah masih bisa ditikung" 

hahaha pengen ketawa aja sih karna dulu juga salah satu penganut istilah itu ._.

tapi juga itu balik ke individunya, kalo emang serius emang niat menuju janji suci, kenapa bisa tertikung? iya kan? hehehe ^^v

okey, balik lagi ke masalah tadi.
emmm mungkin maksudnya nggak mau nunjukin di depan umum lebih ke gimana menyikapi sikap diri dan pasangan ketika di depan umum. yaa ketika dewasa sudah bukan lagi waktunya mengumbar kemesraan gitu kan yaa
tapi balik lagi, seberapa kamu menghargai pasanganmu dengan menunjukkan eksistensinya?

karna yang kita tau, manusia pasti ingin keberadaannya diakui kan? dalam hal apapun itu tentunya, apalagi menyangkut "separuh diri"

nah jadi seperti itulah opini dari diri saya,
anooo ini juga bukan curhatan pribadi loooh, cuman pandangan aja gituuu ._.

sekian dan terimakasih ~~~
selamat malaaam ^^v

Selasa, 21 April 2015

Bermusik, Lebih dari Sekedar Eksistensi

Bermusik dan membentuk sebuah band memang bukan hal yang baru di lingkungan sekolah maupun universitas. Kesamaan minat pada jenis musik tertentu, kedekatan antar individu, teman sekampus misalnya, atau sekedar meramaikan acara menjadi alasan band tersebut terbentuk. Tidak hanya mengembangkan hobi, beberapa “musisi kampus” juga bertujuan mengumpulkan uang dan meraih kesuksesan di dalam maupun di luar kampus. Berbagai aliran dan jenis musik berkembang diantara para penkmat musik di lingkungan kampus.
Cap negatif kerap diberikan dosen maupun mahasiswa lain pada mereka yang bermusik di kampus. Menjadi tidak terawat, sering bolos karena band yang sudah terkenal, hingga lupa kewajiban belajar kerap kali dilabelkan pada mereka yang sebenarnya kreatif ini. Padahal, bisa jadi merekalah yang akan membanggakan almamaternya, meski bukan dengan jalur ilmiah.

Kelekatan antar personil, komitmen awal membentuk, tujuan bersama, dan dukungan dari orang sekitar mempengaruhi bertahan atau tidaknya band yang berasal dari lingkup kampus. Bila bermusik dikampus dilanjutkan dengan komitmen serius, tak jarang meski kuliah berakhir mereka tetap eksis dan terkenal. Bermusik juga mampu menjadikan penghasil rupiah bagi yang menggelutinya, meski kita tau di Indonesia sendiri profesi ini tidak menjanjikan.


--> Tulisan gagal terbit di media massa~~~~  

Minggu, 19 April 2015

Hei! aku kangen

"aku kangen kamu" *send .....
" :) "
.....................................

"kamu apa kabar? gimana pacarmu sekarang? kamu nggak kangen aku apa? aku kangen loooh sama kamu..." send ....
"aku juga kangen kamu ({}) "
"yaudah aku ke rumahmu yaa, biar bisa ketemu kamu, boleh?"
"aku sibuk huhuu kapan-kapan aja aku ke tempatmu yaa..."
"ah kapan itu kapan nggak jelas"
" :)"
" yaudah deh, udah biasa nahan kangen sampe lecek"
"({})"
.................................................

Selasa, 07 April 2015

Teruntuk Kamu yang Di Sana - part 3

Teruntuk kamu yang di sana,
apa kabarmu?
bosan ya mendengar pertanyaan ini dariku?


Teruntuk kamu yang di sana

bagaimana harimu? secerah musim semi bertabur sakurakah?
karna hariku gelap seperti cuaca akhir akhir ini


teruntuk kamu yang di sana

seberapa lebar senyumanmu hari ini?
masih indah dan memikat hati bukan?


teruntuk kamu yang di sana

bagaimana separuh barumu?
sudahkah kau temukan?
aku belum.....


teruntuk kamu yang di sana

baikkah dia denganmu?
akan kupatahkan badannya jika menyakitimu


teruntuk kamu yang ada di sana

jika kau pilih dia,
bisa apa aku yang hanya bisa menyebut namamu dalam setiap sujudku?


teruntuk kamu yang di sana

coretan ini masih tentangmu
dan akan selalu tentangmu


teruntuk kamu yang di sana

kau tahu tidak?
jamku berhenti lagi seperti saat itu


teruntuk kamu yang di sana

bagaimana setelah kau buka peti hartaku?
ah ku kira kau akan membawanya selamanya


teruntuk kamu yang di sana

bagaimana arus airmu sekarang?
mengalirkan ke aliran yang lebih besar?
apa aliran kita kembali terpisah?
tidak selamanya bukan?


teruntuk kamu yang di sana

kapan kau menyiram bungaku lagi?
sudah sangat layu dan hampir mati


teruntuk kamu yang di sana

bukankah seharusnya kita berjuang bersama?
menuju satu laut bersama, bukan terpisah


teruntuk kamu yang disana

kau tau,
sepertinya cuaca mendukungku
dengan awan gelap dan curahan air dari langit
kau pasti tidak tau


teruntuk kamu yang di sana

sampaikan salamku untuknya, separuhmu yang kau cari,
jika mungkin itu bukan aku


teruntuk kamu yang disana

bagaimana jika Tuhan menunjukku menjadi separuhmu?
bagaima bila sebaliknya?


teruntuk kamu yang disana

berapa lama lagi aku harus menunggu pangeran berkuda putih itu
ya tentu untuk menyalakan waktuku lagi


terntuk kamu yang di sana

kamu yang selalu akan menjadi inspirasiku, orang keempat dalam hidupku,
nama yang terpatri dalam ketidaksadaran dan kesadarank
jiwa yang haus akan kebebasan dan petualangan
sosok yang hanya mimpi indah bila mampu kegenggam


teruntuk kamu yang disana

iya hanya kamu yang ada di sana
di sudut kecil sel otakku yang tak mampu terpecahkan


teruntuk kamu yang di sana

teruntuk kamu yang di sana
teruntuk kamu yang disana
LIHAT AKU MASIH DI SINI SELALU ADA UNTUKMU

Minggu, 05 April 2015

Teruntuk Kamu yang Di sana-part 2

teruntuk kamu yang disana~
apa kabar?
ah aku menuliskan tentangmu lagi di lembaran maya ini
sempatkah kamu membacanya?

teruntuk kamu yang disana
sibuk sekali kamu
sampai mungkin aku tak terpikirkan olehmu~

teruntuk kamu yang disana
bagaimana hidupmu? makin berwarna kah?
ijinkan aku tetap menjadi warna hidupmu
meski mungkin hanya secuil warna minor tak nampak jelas

teruntuk kamu disana
apa kabar?
ah aku terlalu takut untuk menyapa dahulu
atau mungkin kamu bosan mendengar sapaanku?

teruntuk kamu yang disana
masih berwarna abu kah gambar itu?
atau kini berwarna bak pelangi?

teruntuk kamu yang disana
apa kabar lagi?
ah sudah berapa kali aku bertanya kabar,
mungkin kamu sudah bosan

teruntuk kamu yang ada di sana, iya kamu
sudah mekarkah bunga itu?
sudah datangkah kupu itu?
sudah harumkah baunya?

teruntuk kamu yang ada disana
bagaimana denganku?
yaaa aku....

teruntuk kamu yang ada di sana
coba berhenti dan tengok kesini
jangan takut tersesat ada aku untukmu

teruntuk kamu yang ada disana
iya tentu saja aku kan menggandengmu keluar dari abu abu itu

teruntuk kamu yang ada di sana
teruntuk kamu yang ada di sana
teruntuk kamu dan memang hanya kamu seorang yang ada di sana
sampaikah bisikan angin dari ku yang hanya diam disini?