Selasa, 30 Juni 2015

Bulan Ke Delapan - Part 2

“Yaaalah Ka, mana aku tau mantanmu yang itu, yang aku tau kan cuman si Rio.”

“Oh ya hahaha pokoknya mirip laah, tapi mendingan si nomor sembilan sih hahaa”

                                                                     ***
UNO!!!

“Tunggu gue dulu yang bilang kata itu, lo harus ambil 2 kartu kak Vit hahaha,” goda Mia pada Vita. Ricuh, ya satu kata yang menggambarkan suasana malam itu di ruang TV penginapan atlit peserta turnamen futsal. Sayangnya penginapan itu tak hanya ditempati universitas kami, tapi ada sepuluh universitas lain yang juga menginap di tempat itu. UNO, permainan kartu dengan angka dan warna memang menjadi andalan kami setiap harinya selama turnamen. Emmm sebenarnya ini masih malam ketiga kami di Jakarta, tapi permainan UNO setiap harinya semakin memanas. Dengan hukuman truth or dare tentu siapapun tak mau ada yang kalah. Oke, malam itu setelah permainan kesekian kalinya, Vita akhirnya kalah, dan aku? Hahah tentu saja aku menjadi yang pertama kali menang. Emmm aku cukup jago permainan UNO ini, selama tiga malam aku baru kalah satu kali, prestasi yang membanggakan bukan hahaha.

“Oke Vit, kamu mau truth apa dare? Hahaha mending dare aja deh aku lagi jahat soalnya hahaha,” ancamku pada Vita ya sebenarnya bukan ancaman hanya ada satu hal kecil yang ingin ku lakukan dan kebetulan itu Vita jadi bisa sekali jalan hahaha. Pintar bukan?

Dengan sedikit gerutuan, akhirnya Vita memilih untuk dar. Haha dia memang sahabatku, sepertinya dia tau apa yang akan kulakukan padanya. Tenang, bukan sesuatu yang benar benar buruk, aku bisa menjaminnya seratus, ah tidak, mungkin seribu persen.

“Aku mau kamu kenalan sama salah satu anak yang ada di kamar itu, kenalan, minta twitternya, nomor hp, sama foto bareng. Okeee kan,” haha tentu saja aku menjelaskannya sambil menahan tawa. Yaps, itu adalah kamar universitas si pemilik nomor punggung sembilan yang tanpa sadar sudah kuperhatikan selama di Jakarta ini.

Namanya Nando, setidaknya itulah nama yang dia berikan pada Vita, yaa dia si nomor sembilan itu. Kebetulan yang luar biasa bukan ketika permainan ini berakhir seperti itu? Kebetulan yang menarik ketika salah satu anak kamar itu yang mau adalah si nomor sembilan. Yaaa si nomor sembilan itu. Vita yang mendapat hukuman dan sekarang ia menjadi ejekan anak-anak tim karena berhasil foto bareng dengan si nomor sembilan. Ssst sebenernya yang tau aku memperhatikan si nomor sembilan cuman Vita. Ya cuman dia tempatku berbagi segala sampah di hatiku selama di Jakarta ini meski sebenarnya tidak hanya selama di sini, tapi ketika di Semarang juga selalu dia.

Kembali ke Vita dan Nando, rupanya terdengar sorak sorai dari kamar Nando cukup ramai, spendengaranku Nando juga menjadi bahan ejekan anggota timnya. Luar biasa bukan? Antara senang dan kesal, ah tidak ini lucu sebenarnya.

                                      *****

KACHUUSHA hazushinagara
kimi ga fui ni furikaette
kaze no naka de hohoemu dake de
nazeka nani mo ienaku naru yo
konna omotte iru no ni
KACHUUSHA hazushinagara
nagai kami wo hodoku you ni
itsu no ma ni ka otona ni natte
boku no te ni wa todokanai kurai
motto suki ni naru yo
Everyday, Everyday, Everyday
KACHUUSHA GAARU

Emmm kayaknya tau lagu ini deh, tapi siapa yang dengan bangganya muter lagu ini sih di 
dalam bus lagi, pikirku dalam hati. Tiba tiba orang disebelahku yang kebetulan lagi adalah si nomor sembilan alias Nando, mengecek handphonenya dan nampak mematikan sesuatu.

“Masnya suka AKB ya?” tanyaku spontan. Tentu saja mas-mas sebelahku, si Nando nomor sembilan itu kaget, mungkin dia juga heran ada orang lain di bus ini yang juga tau AKB48, idol grup dari Jepang.

“Ah iya, Hpku bunyi mbak lupa dimatiin haha maaf yaa.  Loh mbaknya tau AKB48? Waw,”

“Iya tau dong, siapa sih yang ga kenal AKB48 hahaha. Tp aku ga ngikutin mereka sih mas, soalnya aku lebih suka ngikutin Johnny’s junior”

“Hah? Apaan itu mbak?

“Eh kan kita belum kenalan mas hahaha kenalin, aku Rika,” gimana? bisa aja kan buat alesan kenalan langsung?

“Iya ya, masak ga kenal bisa asal ngomong ga jelas gini kita hahaha, aku Nando. Tadi apaan mbak Johnny’s apa?

“Johnnys junior? Haha itu ya kayak idol grup juga mas, sama dari jepangnya, gampangnya kalo AKB kan isinya cewek semua, nah Johnnys junior ini cowok semua, tapi mereka belum debut, belum punya lagu sendiri.”

“Hlah belum punya album kok mbaknya bisa kenal?”

“Bisa dong.. eh mas bentar mau ngasiin HP ke temen.”

Percakapan absurd, ya memang itulah yang mengawali pembicaraanku dan Nando sepanjang perjalanan dari penginapan hingga gor tempat kami bertanding nanti. Lagi-Lagi kebetulan yang menarik bukan? Mendapat jadwal satu bus, sebelahan, dan berkat lagu AKB48 kami mengobrol sepanjang jalan, dan saling berjanji untuk mendukung satu sama lain di pertandingan hari itu. Rasanya? Sebenarnya biasa aja, ya karna memang aku selama tiga hari hanya mengamati dan ya memang biasa aja, tidak ada yang benar benar spesial.

                                                ****



Sabtu, 27 Juni 2015

Teruntuk Kamu di Sana - part 6 -end-

Teruntuk Kamu yang di sana
halo lagi, apakabar?
wah sepertinya makin baik nih,
iya kan :)

Teruntuk kamu yang di sana
ah aku lelah menulis rangkaian kata sakit hati untukmu
bagaimana bila aku berjalan saja
yaa sepertinya memang harus begitu

Teruntuk kamu yang di sana
Terimakasih banyak
sampai bertemu lagi

Teruntuk kamu yang di sana
aku sayang kamu
selalu
..........................................

Rabu, 24 Juni 2015

Bulan ke Delapan - Part I

“Sampai ketemu tujuh bulan lagi ya di EPSO, Ka....”, ucap seorang pria pada teman wanitanya kala itu menutup perpisahan dari pertemuan singkat mereka di Jakarta.

                                                            ****

     Ciit ciit ciiit ...
Suara gesekan antara sepatu futsal dan lantai futsal mewarnai riuhnya pertandingan siang itu. Di tengah teriakan antar pemain dan official, serta ributnya penonton di siang yang terik itu.

“Woy oper woy! Ngapain sih dibawa sendiri ih itu padahal temennya kosong, ih bodo banget.. ah tu kan kebobolan .... “ teriakku di tengah bangku penonton. Oke sepertinya teriakan itu cukup keras dan memancing pandangan dari temanku yang lain, ya mereka kompak menoleh ke arahku seketika. 

“Sssst berisik lo Ka, diem aja tonton dulu. Lagian itu kan kampus yang nanti kalo lolos bakal jadi musuh kita, knapa lo dukung sih?,” Muti membalas teriakanku tepat di depan telingaku kala itu. Ah sial, aku nggak budhek kali nggak udah keras keras bisa kali, teriakku kencang yaa tapi hanya dalam hati. 

“Bukan gitu, gemes aja liatnya. Padahal yang nomor sembilan itu bisa aja ngegolin kalo dapet bola,” balasku.

                                                            *****

“Kamu ngeliatin siapa sih Ka, sampe segitunya,” tanya Vita yang juga masih teman satu tim Rika. Ya, kami adalah satu tim futsal putri dari Universitas terkemuka di kota Semarang. Bersama dengan rombongan atlet futsal dari fakultas, kami mengikuti turnamen futsal tingkat nasional di Jakarta.

Suasana Jakarta yang panas dengan debu dari ratusan kendaraan yang melintas di jam pulang kantor hari itu. Di dalam bus yang mengantar rombongan atlet kembali ke penginapannya, universitas kami ternyata harus satu bus dengan universitas yang kuteriaki dari pinggir lapangan tadi.

“Liat deh Vit, dia yang tadi nomor sembilan itu, kalo diliat dari deket, dia mirip mantanku yang drumer, otot kakinya sama, wajahnya hampir mirip, cuman beda tinggi aja,” bisikku pada Vita, gadis tinggi dengan badan tegap berisi, dialah salah satu ujung tombak tim futsalku, sementara aku hanya bisa menjaga barisan belakang tim kami supaya tak tersentuh musuh.

“Yaaalah Ka, mana aku tau mantanmu yang itu, yang aku tau kan cuman si Rio.”

“Oh ya hahaha pokoknya mirip laah, tapi mendingan si nomor sembilan sih hahaa”

                                                                     ***

Senin, 22 Juni 2015

Teruntuk Kamu yang Di Sana - Part 5

Teruntuk kamu yang di sana,
apa kabar?
selalu baik, iyakan?
tetap baik selalu yaaa
ah, sayang aku tak sebaik dirimu ....

Teruntuk kamu yang di sana
waaah kau jadi inspirasi menulisku lagi
ah iya! kamu selalu menjadi inspirasi menulisku

Teruntuk kamu yang di sana
berapa banyak bunga yang sudah kau hinggapi,
sejak saat itu
bahkan aku menjauhi kupu lain,
sejak saat itu

Teruntuk kamu yang di sana
rindukah kamu padaku?
Aku rindu menggebu-gebu ingin bertemu
ah tapi siapa aku?

Teruntuk kamu yang di sana
bagaimana bisa kau muncul setiap celah kesadaranku?
sementara aku tak pernah bisa bertahan di celah kosongmu

Teruntuk kamu di sana
mau sampai kapan kita begini?
sampai semua pasangan dalam dunia fujoshi ku menjadi nyata?
atau salah satu favoritku menjemputku?

Teruntuk kamu yang di sana
begitu banyak kalimat cantik nan indah
yang kata orang membantumu bergerak maju kedepan
tapi kenapa tak berlaku padaku?

Teruntuk kamu yang di sana
sampai kapan ya aku begini?
merasa tak menentu dan tak padam tentangmu
sementara kamu padaku?
ah mana aku tahu

Teruntuk kamu di sana
aku rindu menyanyikan lagu jatuh cinta untukmu
bukan lagu patah hati karenamu

Teruntuk kamu di sana
ini cinta satu arah saja kan?
memang aku yang terlalu banyak berharap kan?
ah entahlah,
Tuhan punya milyaran misteri yang tak terpecahkan untuk kita

Teruntuk kamu yang di sana,
masih selalu untuk kamu yang di sana
selalu,