Kamis, 10 September 2015

Bulan ke Delapan - part 4

Triiing. Tuh kan baru juga dipikirin, udah maen BBM aja nih si Dina, dan voilaa tepat sekali dia tanya berbagai macam hal tentang aku dan Nando. Berarti aku harus menjelaskan pada Vita dan Dina dengan dua cara yang berbeda, dan aku juga masih asik saling bercakap ria melalui twitter. Mungkin malam ini aku tidak tidur di kereta, atau justru aku tidur nyenyak dan mimpi indah.

*******
“Jadi dua bulan ini gimana progressmu sama Nando? Udah jadian? Hahahaha” goda Kiky pada Rika.

“Tauk tuh udah dua bulan masak cuman Bbman sama twitteran doang. Meet up doong, beda jarak satu kota doang juga kaan kalian ini payah,” tambah Dina yang ikut menggoda Rika

“Ih ih kalian apaan sih, emang siapa nando cobaaa... plis yaa kan kita berdua cuman temen sharing 48 family sama futsal doang ih”,  balasku singkat. Hmm mungkin pembelaanku ini tak berarti karena mereka tetap saja menggodaku dan Nando.

Dua bulan berlalu sejak “insiden” panggilan “mbak hebring” kala itu. Aku dan Nando yaa kami masih hanya sebatas teman chatting, tidak kurang dan tidak lebih. Kesukaan kita yang kebetulan sama mempermudah kita menemukan bahan obrolan.  Terlalu cepat menamai perasaan apa yang muncul. Yaa kita hanya bertemu di turnamen waktu itu, selebihnya kita tak lagi berjumpa. Hanya saling memandang display picture  yang ditampilkan pada akun masing-masing.

“eh bulan depan ada turnamen futsal di universitas dia kan ka? Kamu udah janjian sama dia? Mumpung looh kapan lagi coba bisa ketemu. Ciee LDR cieee, “ lagi lagi Dina masih mencoba menggoda.

“ih apaan masak cewek yang disuruh nyamperin? Jangan mau Ka. Harusnya dia yang kesini dooong. Usaha dong. Kan tau harusnya temen kesayangan kita satu ini susah move on ahahahaa”.

“ih Dina, Kiky apaan sih kalian ih. Plis aku sama Nando ga ada apa apa yaa plis. Siapa juga yang bilang gue susah move on heeeh?’. Errr sepertinya upayaku mengalihkan pembicaraan cukup susah kali ini. Bisa saja dua sahabat kesyanganku itu menggoda seperti itu. Jika mereka bukan sahabatku mungkin sudah kusiram dengan air raksa mereka hahaha ternyata pikiranku jahat juga yaa.

“Selama pagi, kita kuis ya pagi ini”. Suara dosen yang masih muda dan cantik pagi itu mengubah segalanya. Keasikan mengobrol kami sebelum mulai kuliah hancur seketika dengan kata paling indah pagi itu. Kuis dadakan. Bagus, ditambah semalam aku menghabiskan waktu tidurku hanya untuk menghabiskan drama Jepang yang baru selesai ku download, ah semoga dua sahabatku ini bisa menolong, meskipun sepertinya nihil.

*****

ping!”

“Ping!”

“Ping!”

Err siapa sih ini sore gini berisik banget pake Ping! Berkali kali gini, gumamku ketika terbangun dari tidur sore. Ya hari itu kuliahku hanya setengah hari, dan tidur sore menjadi kado yang indah setelah sehari sebelumnya hariku dipenuhi tugas kuliah dan latian persiapan turnamen.

“Rik, minggu depan aku ke Semarang.......”

Wait, ah aku pasti masih tidur, tunggu atau jangan-jangan aku salah liat nama orang, atau si Nando yang salah kirim. Ya pasti begitu, pasti dia salah kirim.

“Awwww....”, sepertinya aku sudah benar-benar bangun, sakit rasanya mencubit tangan sendiri.

“Ha, iyakah? Ngapain Nan?”, jawabku singkat. Tunggu saja balasannya setelah ini, bila dia balas berarti dia tak salah kirim.

“Rinal bilang kalian ada turnamen? Pengen aja aku main ke sana hahaha”

“Awwww.....”, aku kembali mencubit lenganku dan ternyata lebih sakit dari sebelumnya.

“hahaha Rinal bilang apa ke kamu? Terus ngapain emang pengen main ke sini?”, tanyaku penasaran. Sudah dua bulan lebih kami berhubungan lewat aplikasi chatting, tapi itu tak menghalangi kami untuk tetap berkomunikasi, bahkan kami merasa jarak yang sangat dekat antara kami.

“Ya nggak papa dong, main aja. Kamu nggak mau ya ketemu aku? Hahahhaa canda looooh”

Hmmm please ke sini, kita bisa ketemu kan, pikiranku melayang saat Nando mengatakan akan menonton timku berlaga di turnamen.

“Oke, awas kalo boongan tar timmu bakal kalah di turnamen berikutnya hahahaa”
Pikiranku masih saja melayang membalas pesan singkat dari Nando. Sebenarnya biasa saja, bahkan mungkin aku tak tahu apa yang akan kami lakukan bila bertemu nanti, mengingat kami hanya saling mengirim pesan pendek.


                     **************************

Curahan Hati seorang Fujoshi

(source: pinterest
Fujoshi? hmm mungkin tak banyak yang mengenal kata tersebut, ya selain orang-orang yang merasa "satu komunitas". Apasih fujoshi? Kenapa banyak yang melabeli dirinya fujoshi? 

Rabu, 19 Agustus 2015

JIKA

Jika dari awal aku tak pernah mengenalmu,
mungkin sampai sekarang aku tak tau apa itu sakit hati

Jika mengenalmu adalah sebuah kesalahan
Pengulangan kesalahan adalah pelajaran yang indah untukku

Jika bersamamu adalah kebohongan
Mungkin melewatkan kebohongan itu merupakan kebohongan yang lain

Jika melepasmu membutuhkan keikhlasan
Ajari aku untuk bisa iklas dan tetap sadar

Jika melupakanmu semudah membalikkan telapak tangan
aku tak perlu menguras air mata

Jika membiarkanmu pergi adalah suatu jalan
bagaimana jika jalan itu kututup sehingga kau tidak bisa pergi

Jika kau melepasku merupakan jawabanmu
apa arti semua ini

Jika mencintai sesakit ini
mungkin aku akan memilih kembali belajar pelajaran yang kubenci saja


Jika kita memang harus saling berpisah
kenapa kita diminta kembali bersatu?


Minggu, 26 Juli 2015

Dari D untuk E

Dear E.F.B. ....
apa kabar?
Maaf yaah, seharusnya ini ku katakan langsung padamu, bukan lewat tulisan. Waktu memang tidak pernah memihak pada kita, kan? :)

hei, ingat tidak ketika pertama kali kita bertemu, kita berkenalan di bus kuning menuju tempat pertandingan hari itu. ketika kita kebetulan ada di satu penginapan, kebetulan juga hari itu kita menuju tempat pertandingan dengan bus yang sama. bahkan aku juga tak sengaja mengambil beberapa jepretan fotomu ketika pembukaan acara olahraga tahunan jurusan kita itu. 

Hahahha. pertama kali aku melihat, sungguh aku melihat sosok masa lalu yang sangat mirip denganmu. Tentu saja kamu lebih tinggi dan kalian punya hobi yang berbeda, dia drummer, dan kamu pemain futsal. tapi sekilas kalian sungguh mirip. Hingga pertemuan di dalam bus itu aku sempat menanyakan apakah kau punya saudara pria yang mirip dengamu kan? 

Sebenarnya saat itu aku sengaja menunggu kesempatan agar seolah tak sengaja aku duduk di sebelahmu, hehe padahal itu sengaja, maafkan aku... tapi itu sukses membuat kita saling kenal hingga sekarang kan. bahkan kau menyebutku "mbak hebring" karna aku berkali kali heboh memberikan handphoneku pada temanku di hadapan kita. 

sapaan pertama melalui sosial media, saling memfollow, dan saling berbalas seolah tak kenal lelah. cukup mengejutkan ternyata kita bisa punya bahan obrolan kan hahaha. 

kamu ingat saat pertama kali kamu menambahkanku sebagai teman di bbmmu? hahaha sungguh saat itu aku bahagiaaaa. oke ini lebay mungkin, tapi biarlah~ 
yaa lewat teman satu timmu itu aku banyak tanya tentangmu, meski kalian tak akrab. setidaknya aku harus berterimakasih padanya karna kita bisa saling berhubungan sampai sekarang. 

waktu berlalu, dan aku tak tau apa yang sebenarnya aku rasakan terhadapmu, biasa saya, atau apa, sungguh aku benar-benar tak tau apa nama perasaan waktu itu. yang aku tau hanya aku nyaman bisa terus ngobrol denganmu, bisa berbagi cerita denganmu. 

Ingat ketika kita janjian untuk bertemu di event olahraga ketika universitasku menjadi tuan rumahnya? haha aku sengaja meminta agar bisa menjadi LO universitasmu. Tentu saja agar aku bisa lebih dekat denganmu, apalagi? sayangnya karena bidang olahraga kita sama, jadwal kita juga sama sehingga sulit waktu kosong bagi kita. 

Sama-sama pemalu, mungkin itu kata yang tepat menggambarkan kita saat itu, atau mungkin hanya diriku. aku malu untuk bisa dekat denganmu, aku malu kalau dibilang LO yang "kegatelan" dengan peserta, aku tak mau dicap buruk oleh panitia ataupun peserta lain, terlebih teman-temanmu. maaf :")

Aku coba meluangkan waktu semampuku, sebisaku agar setidaknya kita bisa banyak berbincang empat mata, tapi sepertinya susah yaa. bahkan untuk bisa berfoto bersamapun aku harus minta bantuan temanku. payah bukan? hahaa maaf lagi yaa :)

Entah apa yang kurasakan saat itu, tapi selesainya turnamen itu jujur hatiku remuk, aku bahkan tidak pernah paham kenapa dan bagaimana. kecewa mungkin. tapi siapalah aku yang harus kecewa? bahkan kamu tak ada perasaan apapun kan terhadapku? mungkin hanya aku dan teman-temanku yang salah mengartikan setiap gerak tubuhmu ketika kita bersama. mungkin hanya aku yang merasa bola mata kita bertemu berkali-kali. serba mungkin bukan? 

butuh waktu lama untuk menghilangkan perasaan itu. berbagai cara waktu itu kulakukan. naik motor mengelilingi kota sendirian, makan sendirian, ah sudahlaah... 

kita berjanji lagi bertemu di event tahunan yang pertama mempertemukan kita. sungguh entah mengapa waktu itu terasa sangat menyenangkan bisa membayangkan akan bertemu kamu kembali. bahkan aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengatakannya, semuanya, jika aku berhasil masuk final di turnamen itu. 

sayang waktu berkata lain.... 
orang yang paling kusayangi, yang menutup hati dan membuang kunci itu kembali, mengajak kembali mengulang kisah bersama, berjanji takkan berpisah. bisa apa aku yang selama ini  menunggunya?
disatu sisi tentu saja aku senang, tidak, aku luar biasa senang karna bisa kembali bersamanya, disisi lain, aku merasa ada yang akan hilang ketika aku kembali bersamanya. Kamu. aku yakin kamu akan hilang. bagaimana mungkin aku mendua? aku bukan tipe yang seperti itu ... 

pilihan yang berat dan menyiksa. hingga aku lebih memilihnya daripada kamu. beberapa temanku menyayangkan keputusan itu. tapi hati kecilku tidak. maaf, mungkin memang aku tak tahu pasti apa yang sebenarnya ku rasakan terhadapmu hingga saat itu, dan dia kembali muncul disaat yang tepat. 

Okey, kita sama-sama tau, mungkin sejak saat itu kita tak sedekat sebelumnya. aku menjaga jarak darimu. tentu saja karna aku tak mau hatiku terbagi menjadi dua, aku tak mau juga memberi harapan padamu ketika aku sudah ada yang punya. aku juga sangat tak mau menyakiti pasanganku, karna aku juga tak pernah mau disakiti dengan diduakan. 

Turnamen olahraga dimulai, kita bertemu lagi, meski beda penginapan kita masih bertemu di lapangan atau di tempat "favorit" di depan gor. saling berpapasan dan bertukar senyum. kamu tau, saat itu hatiku terasa sakit, yaa aku benar-benar tak tau kenapa. kita bahkan tak bisa menyamakan jadwal untuk sekedar saling bercerita secara langsung. penginapanmu yang sangat jauh dari gor dan timmu yang selalu pulang setelah bertanding, padahal aku menunggu di sana. 

Ingat saat di tempat favorit itu, kamu bersama temanmu duduk, aku baru saja masuk dan kita hanya saling say hello. aku ke lantai atas, dan kamu masih duduk. temanku sempat berkata kau melihatku seolah ingin bertemu denganku, tapi kau diam dan aku tak tau jika itu memang maksudmu. yaa sampai kau kembali ke penginapan dan menyampaikannya melalui pesan singkat padaku bila sebenarnya saat itu ingin mengobrol denganku. maaf aku memang tak peka, dan juga tak ingin salah sangka :")

Turnamen berakhir dan kita belum melewatkan momen bersama. oh ya, waktu itu aku sempat berjanji jika masuk final akan mengungkapkan padamu kan? hahah dan ternyata timku gagal masuk final, jadi yaaa kau tau sendiri kan bagaimana akhirnya :)
kita hanya bertemu dan berbincang dikit setelah selesai pertandingan terakhirmu, di depan gor, di depan teman-temanmu, dan di depan sahabatku. kita foto berdua dan kau merangkulku. ah kau pasti hanya menganggap itu rangkulan biasa seperti yang sering kau lakukan pada temanmu kan? kau tidak mendengan deguban jantungku saat itu kan? kalau kau mendengar aku pasti sangat malu, sungguh. 

Turnamen selesai, seolah selesai pula cerita kita. tak mungkin lagi kita bertemu karna aku yakin itu turnamen terakhirku. aku yang sudah punya separuhku, dan kamu yang jauh di kotamu. kita memang tak ditakdirkan lebih dari teman. aku yakin itu, sangat yakin. 

memang benar kan kita tak lagi sedekat dulu setelah turnamen itu. aku meyakinkan diriku jika saat itu aku hanya nyaman denganmu. aku nyaman karna setelah empat tahun pintuku terkunci, karna kamu aku sadar bahka di luar sana banyak orang baik untuk diri kita. menunggu terkadang bukan keputusan baik ketika kita bisa mencoba membuka hati kepada orang lain. terimakasih kamu :") 

Bahkan sampai aku tak lagi dengan separuhku kamu masih ada untuk sekedar mendengar imajinasiku, masih mau berteman denganku. tidak! aku tidak bermaksud menjadikanmu pelarian atau apa setelah perpisahanku dengan separuhku itu, tapi aku juga selalu nyaman ketika kita bisa saling sapa dan bercanda melalui dunia maya. maafkan aku lagi kali ini. 

Ternyata tulisan ini sudah sangat panjang yaaa... apalagi yang harus kutulis selain maaf dan terimakasih atas kehadiranmu dan kenyamanan yang kamu berikan. kita akan selalu menjadi teman baikkan? Jangan berubah yaa, apalagi bila suatu saat nanti aku bisa mengatakan ini langsung, atau kuperlihatkan tulisan ini padamu. sungguh melelahkan menahan semuanya seorang diri, hahaha. 
Maaf atas ketidakjelasan atas apa yang kurasakan terhadapmu, terimakasih sudah membuka dan mewarnai hariku, benar-benar indah dan berwarna :) 


salam,
D.N.W

Sabtu, 04 Juli 2015

Bulan Ke Delapan - Part 3

Percakapan absurd, ya memang itulah yang mengawali pembicaraanku dan Nando sepanjang perjalanan dari penginapan hingga gor tempat kami bertanding nanti. Lagi-Lagi kebetulan yang menarik bukan? Mendapat jadwal satu bus, sebelahan, dan berkat lagu AKB48 kami mengobrol sepanjang jalan, dan saling berjanji untuk mendukung satu sama lain di pertandingan hari itu. Rasanya? Sebenarnya biasa aja, ya karna memang aku selama tiga hari hanya mengamati dan ya memang biasa aja, tidak ada yang benar benar spesial.

                                                ****

Seminggu berlalu begitu saja di Jakarta. Pertandingan kami? Ah sayang sekali tim futsal perempuan kami harus berakhir di semifinal. Kalah dengan selisih satu gol dan harus ditentukan hingga babak pinalti, kekalahan yang menyakitkan bagi setiap tim futsal. Sementara tim futsal putra kami juga harus berhenti di semifinal. Kebetulan lagi? Tapi tim futsal putra masih memiliki kesempatan untuk merebut peringkat tiga. Semoga ya tidak pulang dengan tangan hampa.

Nando? Hmmm cerita tak selalu sejalan bak Korean Drama, atau cerita indah ala FTV kok. Ya, aku dan Nando setelah percakapan absurd di bus waktu itu tak pernah lagi mendapat apa itu kebetulan. Kami tak lagi satu bus. Bertemu di pinggir lapangan juga jarang. Di minimart yang ada di luar gorpun kini jarang, toh jika kita bertemu hanya saling melempar senyum. Tidak ada lagi percakapan panjang, absurd, dan penuh tawa. Ya seperti itulah. Hanya jepretan kameraku yang sempat mengabadikan momennya bermain di lapangan. Meski bukan fotografer handal, tapi jepretan kameraku selama turnamen ini cukup membantu mengabadikan momen indah di lapangan maupun di luar lapangan, hehe.
                                      *****

Sepuluh hari di Jakarta selesai, saatnya kembali ke kehidupan normal sebagai mahasiswa. Haha sebetulnya masih ingin bermain dan liburan, tapi sepertinya aku mulai rindu dengan setiap sudut kampus kesayanganku.

Selesainya malam penutupan turnamen, kami segera bergegas menuju stasiun. Stasiun Senen malam hari itu masih sangat ramai.

“Eh mbak, liat itu temen temennya masnya yang sering kamu liatin bukan sih? Yang kamarnya sebelah kamar kita?” tanya Mia, salah satu pemain kami membuyarkan lamunanku.

“Ah mana mana, ada Nando nggak?”

“Rikaaaa, katamu biasa aja sama si Nando itu, gmana sih?” goda kapten timku. Hmmm satu tim jadi tau gara-gara aku sempat kalah dari permainan UNO setelah insiden percakapan absurd di bus itu.

“Ah ya capt, biasa aja koook hahhahaa”

“Eh ayo baris kita masuk kereta, tuh keretanya udah dateng,” teriak Dwi, ketua rombongan kami, seketika candaan kami berhenti. Suasana kembali sepi karna sudah cukup malam dan kami semua kelelahan, belum lagi koper dan peralatan turnamen yang kami bawa. Piala? Ah kami gagal membawa pulang piala perebutan juara ketiga. Kali ini menjadi kebetulan yang menyakitkan karena dua tim kami harus tersingkir di semifinal.  

Satu persatu kami masuk ke gerbong kereta seperti yang tertulis di tiket, sayangnya kami saling bertukar tempat duduk. Hehe biasa mencari siapa yang nyaman, meskipun perjalanan pulang kali ini pasti hanya diisi dengan tidur. Aku duduk diantara Vita dan Mia malam ini, tentu saja karena selain kedekatan kami bertiga, kami sudah saling cocok untuk tidur bersebelahan.

Kereta belum mulai jalan tapi Mia sudah mulai terlelap di pundakku, padahal teman-teman yang lain masih sibuk bercanda, sepertinya Mia sama sekali tak terganggu dengan suara-suara berisik dari yang lain. Hmmm apa memang dia bisa tidur semudah itu yaa hahaha pikirku dalam hati.

Tiktiktiktik.......

Sepertinya suaraku memainkan layar sentuh smartphoneku cukup memancing rasa penasaran Vita.

“Ngapain Ka? Sibuk banget buka hp dari tadi tumben hahaha”

“Gapapa, lagi kepo nih hahaha penasaran sama username yang dikasih Dina, bener apa nggak”

“hah? Punya siapa emang? Nando pasti? Hahaha ketauan banget sih kamu. Udah kepo sampe taun berapa? Hahahahahaha”. Errr oke tau banget emang si Vita ini. Yaa emang sih aku masih sibuk ngeliat profil sama twit-twitnya si Nando. Belajar dari si Dina lebih tepatnya buat ngekepoin akun orang.

          Cieee selamat yaaa dapet juara 1 mas hihiii omedetooo @NandoFachrezal

“Gila gercep banget kamu Ka,” komentar Vita yang ternyata sedari tadi asik memperhatikanku, dan kenapa aku tidak menyadarinya. Hufft apakah aku seasik itu sampai tidak sadar akan tatapan aneh Vita? Ah sudahlah sudah terlanjur...

Tring .... eh cepet banget balasannya, gumamku dalam hati. Tunggu, aku belum tau ini tanda notifications twitter dari siapa ahahhaa.

          Ah iya makasih ya mbak @rikarikaka9_ ,salam buat temen-temennya. Sampai ketemu lagi nanti...

          @NandoFachrezal followed you

Ah tunggu, apa aku mimpi? Ah tidak, rasanya ingin teriak, yaa yaa aaaaakhhh.... Tenang saja aku hanya teriak dalam pikiranku, tak mungkinlah aku teriak di dalam kereta ini, belum lagi Mia yang sedarit adi masih asik tidur sambil bersandar di pundakku.

          @NandoFachrezal sama sama mas, eh emang kamu tau aku mas? Hahaha eh btw thanks yaa malah kamu ngefollow duluan ih hihihi

          @rikarikaka9_ ahahaha mbaknya yang hebring di bus kemaren kan, yang tau aja aku keputer lagunya AKB48 hahaha

          @NandoFachrezal hahaha hebring apanya sih mas aku pendiem gitu loh hahaha


“Duh duh duh yang asik mensyenan di twitter, lupa kalo temen sebelahnya belum tidur. Duh dingin banget ini ACnya duh hahahaha,” canda Vita sambil mencoba melihat lebih dalam isi percakapanku dengan Nando via twitter. Oke bro, you got me this time hahaha. Oke ketauan sudah dan pasti si Dina di Semarang juga udah tau. 

Triiing. Tuh kan baru juga dipikirin, udah maen BBM aja nih si Dina, dan voilaa tepat sekali dia tanya berbagai macam hal tentang aku dan Nando. Berarti aku harus menjelaskan pada Vita dan Dina dengan dua cara yang berbeda, dan aku juga masih asik saling bercakap ria melalui twitter. Mungkin malam ini aku tidak tidur di kereta, atau justru aku tidur nyenyak dan mimpi indah.

                             **********


Selasa, 30 Juni 2015

Bulan Ke Delapan - Part 2

“Yaaalah Ka, mana aku tau mantanmu yang itu, yang aku tau kan cuman si Rio.”

“Oh ya hahaha pokoknya mirip laah, tapi mendingan si nomor sembilan sih hahaa”

                                                                     ***
UNO!!!

“Tunggu gue dulu yang bilang kata itu, lo harus ambil 2 kartu kak Vit hahaha,” goda Mia pada Vita. Ricuh, ya satu kata yang menggambarkan suasana malam itu di ruang TV penginapan atlit peserta turnamen futsal. Sayangnya penginapan itu tak hanya ditempati universitas kami, tapi ada sepuluh universitas lain yang juga menginap di tempat itu. UNO, permainan kartu dengan angka dan warna memang menjadi andalan kami setiap harinya selama turnamen. Emmm sebenarnya ini masih malam ketiga kami di Jakarta, tapi permainan UNO setiap harinya semakin memanas. Dengan hukuman truth or dare tentu siapapun tak mau ada yang kalah. Oke, malam itu setelah permainan kesekian kalinya, Vita akhirnya kalah, dan aku? Hahah tentu saja aku menjadi yang pertama kali menang. Emmm aku cukup jago permainan UNO ini, selama tiga malam aku baru kalah satu kali, prestasi yang membanggakan bukan hahaha.

“Oke Vit, kamu mau truth apa dare? Hahaha mending dare aja deh aku lagi jahat soalnya hahaha,” ancamku pada Vita ya sebenarnya bukan ancaman hanya ada satu hal kecil yang ingin ku lakukan dan kebetulan itu Vita jadi bisa sekali jalan hahaha. Pintar bukan?

Dengan sedikit gerutuan, akhirnya Vita memilih untuk dar. Haha dia memang sahabatku, sepertinya dia tau apa yang akan kulakukan padanya. Tenang, bukan sesuatu yang benar benar buruk, aku bisa menjaminnya seratus, ah tidak, mungkin seribu persen.

“Aku mau kamu kenalan sama salah satu anak yang ada di kamar itu, kenalan, minta twitternya, nomor hp, sama foto bareng. Okeee kan,” haha tentu saja aku menjelaskannya sambil menahan tawa. Yaps, itu adalah kamar universitas si pemilik nomor punggung sembilan yang tanpa sadar sudah kuperhatikan selama di Jakarta ini.

Namanya Nando, setidaknya itulah nama yang dia berikan pada Vita, yaa dia si nomor sembilan itu. Kebetulan yang luar biasa bukan ketika permainan ini berakhir seperti itu? Kebetulan yang menarik ketika salah satu anak kamar itu yang mau adalah si nomor sembilan. Yaaa si nomor sembilan itu. Vita yang mendapat hukuman dan sekarang ia menjadi ejekan anak-anak tim karena berhasil foto bareng dengan si nomor sembilan. Ssst sebenernya yang tau aku memperhatikan si nomor sembilan cuman Vita. Ya cuman dia tempatku berbagi segala sampah di hatiku selama di Jakarta ini meski sebenarnya tidak hanya selama di sini, tapi ketika di Semarang juga selalu dia.

Kembali ke Vita dan Nando, rupanya terdengar sorak sorai dari kamar Nando cukup ramai, spendengaranku Nando juga menjadi bahan ejekan anggota timnya. Luar biasa bukan? Antara senang dan kesal, ah tidak ini lucu sebenarnya.

                                      *****

KACHUUSHA hazushinagara
kimi ga fui ni furikaette
kaze no naka de hohoemu dake de
nazeka nani mo ienaku naru yo
konna omotte iru no ni
KACHUUSHA hazushinagara
nagai kami wo hodoku you ni
itsu no ma ni ka otona ni natte
boku no te ni wa todokanai kurai
motto suki ni naru yo
Everyday, Everyday, Everyday
KACHUUSHA GAARU

Emmm kayaknya tau lagu ini deh, tapi siapa yang dengan bangganya muter lagu ini sih di 
dalam bus lagi, pikirku dalam hati. Tiba tiba orang disebelahku yang kebetulan lagi adalah si nomor sembilan alias Nando, mengecek handphonenya dan nampak mematikan sesuatu.

“Masnya suka AKB ya?” tanyaku spontan. Tentu saja mas-mas sebelahku, si Nando nomor sembilan itu kaget, mungkin dia juga heran ada orang lain di bus ini yang juga tau AKB48, idol grup dari Jepang.

“Ah iya, Hpku bunyi mbak lupa dimatiin haha maaf yaa.  Loh mbaknya tau AKB48? Waw,”

“Iya tau dong, siapa sih yang ga kenal AKB48 hahaha. Tp aku ga ngikutin mereka sih mas, soalnya aku lebih suka ngikutin Johnny’s junior”

“Hah? Apaan itu mbak?

“Eh kan kita belum kenalan mas hahaha kenalin, aku Rika,” gimana? bisa aja kan buat alesan kenalan langsung?

“Iya ya, masak ga kenal bisa asal ngomong ga jelas gini kita hahaha, aku Nando. Tadi apaan mbak Johnny’s apa?

“Johnnys junior? Haha itu ya kayak idol grup juga mas, sama dari jepangnya, gampangnya kalo AKB kan isinya cewek semua, nah Johnnys junior ini cowok semua, tapi mereka belum debut, belum punya lagu sendiri.”

“Hlah belum punya album kok mbaknya bisa kenal?”

“Bisa dong.. eh mas bentar mau ngasiin HP ke temen.”

Percakapan absurd, ya memang itulah yang mengawali pembicaraanku dan Nando sepanjang perjalanan dari penginapan hingga gor tempat kami bertanding nanti. Lagi-Lagi kebetulan yang menarik bukan? Mendapat jadwal satu bus, sebelahan, dan berkat lagu AKB48 kami mengobrol sepanjang jalan, dan saling berjanji untuk mendukung satu sama lain di pertandingan hari itu. Rasanya? Sebenarnya biasa aja, ya karna memang aku selama tiga hari hanya mengamati dan ya memang biasa aja, tidak ada yang benar benar spesial.

                                                ****



Sabtu, 27 Juni 2015

Teruntuk Kamu di Sana - part 6 -end-

Teruntuk Kamu yang di sana
halo lagi, apakabar?
wah sepertinya makin baik nih,
iya kan :)

Teruntuk kamu yang di sana
ah aku lelah menulis rangkaian kata sakit hati untukmu
bagaimana bila aku berjalan saja
yaa sepertinya memang harus begitu

Teruntuk kamu yang di sana
Terimakasih banyak
sampai bertemu lagi

Teruntuk kamu yang di sana
aku sayang kamu
selalu
..........................................

Rabu, 24 Juni 2015

Bulan ke Delapan - Part I

“Sampai ketemu tujuh bulan lagi ya di EPSO, Ka....”, ucap seorang pria pada teman wanitanya kala itu menutup perpisahan dari pertemuan singkat mereka di Jakarta.

                                                            ****

     Ciit ciit ciiit ...
Suara gesekan antara sepatu futsal dan lantai futsal mewarnai riuhnya pertandingan siang itu. Di tengah teriakan antar pemain dan official, serta ributnya penonton di siang yang terik itu.

“Woy oper woy! Ngapain sih dibawa sendiri ih itu padahal temennya kosong, ih bodo banget.. ah tu kan kebobolan .... “ teriakku di tengah bangku penonton. Oke sepertinya teriakan itu cukup keras dan memancing pandangan dari temanku yang lain, ya mereka kompak menoleh ke arahku seketika. 

“Sssst berisik lo Ka, diem aja tonton dulu. Lagian itu kan kampus yang nanti kalo lolos bakal jadi musuh kita, knapa lo dukung sih?,” Muti membalas teriakanku tepat di depan telingaku kala itu. Ah sial, aku nggak budhek kali nggak udah keras keras bisa kali, teriakku kencang yaa tapi hanya dalam hati. 

“Bukan gitu, gemes aja liatnya. Padahal yang nomor sembilan itu bisa aja ngegolin kalo dapet bola,” balasku.

                                                            *****

“Kamu ngeliatin siapa sih Ka, sampe segitunya,” tanya Vita yang juga masih teman satu tim Rika. Ya, kami adalah satu tim futsal putri dari Universitas terkemuka di kota Semarang. Bersama dengan rombongan atlet futsal dari fakultas, kami mengikuti turnamen futsal tingkat nasional di Jakarta.

Suasana Jakarta yang panas dengan debu dari ratusan kendaraan yang melintas di jam pulang kantor hari itu. Di dalam bus yang mengantar rombongan atlet kembali ke penginapannya, universitas kami ternyata harus satu bus dengan universitas yang kuteriaki dari pinggir lapangan tadi.

“Liat deh Vit, dia yang tadi nomor sembilan itu, kalo diliat dari deket, dia mirip mantanku yang drumer, otot kakinya sama, wajahnya hampir mirip, cuman beda tinggi aja,” bisikku pada Vita, gadis tinggi dengan badan tegap berisi, dialah salah satu ujung tombak tim futsalku, sementara aku hanya bisa menjaga barisan belakang tim kami supaya tak tersentuh musuh.

“Yaaalah Ka, mana aku tau mantanmu yang itu, yang aku tau kan cuman si Rio.”

“Oh ya hahaha pokoknya mirip laah, tapi mendingan si nomor sembilan sih hahaa”

                                                                     ***

Senin, 22 Juni 2015

Teruntuk Kamu yang Di Sana - Part 5

Teruntuk kamu yang di sana,
apa kabar?
selalu baik, iyakan?
tetap baik selalu yaaa
ah, sayang aku tak sebaik dirimu ....

Teruntuk kamu yang di sana
waaah kau jadi inspirasi menulisku lagi
ah iya! kamu selalu menjadi inspirasi menulisku

Teruntuk kamu yang di sana
berapa banyak bunga yang sudah kau hinggapi,
sejak saat itu
bahkan aku menjauhi kupu lain,
sejak saat itu

Teruntuk kamu yang di sana
rindukah kamu padaku?
Aku rindu menggebu-gebu ingin bertemu
ah tapi siapa aku?

Teruntuk kamu yang di sana
bagaimana bisa kau muncul setiap celah kesadaranku?
sementara aku tak pernah bisa bertahan di celah kosongmu

Teruntuk kamu di sana
mau sampai kapan kita begini?
sampai semua pasangan dalam dunia fujoshi ku menjadi nyata?
atau salah satu favoritku menjemputku?

Teruntuk kamu yang di sana
begitu banyak kalimat cantik nan indah
yang kata orang membantumu bergerak maju kedepan
tapi kenapa tak berlaku padaku?

Teruntuk kamu yang di sana
sampai kapan ya aku begini?
merasa tak menentu dan tak padam tentangmu
sementara kamu padaku?
ah mana aku tahu

Teruntuk kamu di sana
aku rindu menyanyikan lagu jatuh cinta untukmu
bukan lagu patah hati karenamu

Teruntuk kamu di sana
ini cinta satu arah saja kan?
memang aku yang terlalu banyak berharap kan?
ah entahlah,
Tuhan punya milyaran misteri yang tak terpecahkan untuk kita

Teruntuk kamu yang di sana,
masih selalu untuk kamu yang di sana
selalu,

Kamis, 28 Mei 2015

Futsal dan Kamu

Futsal atau kamu? pilihan yang sulit bukan? tapi bukankah keduanya punya persamaan? iyakah? yaa tentu sajaa semua bisa disamakan. bahkan yang terlihat sangat berbedapun bisa menjadi sama :)

Selasa, 26 Mei 2015

Demi Sebuah Gelar (?)


                                        

Semarang, 24 April 2015. 
Hari yang paling ditunggu setelah hampir 4 tahun menempuh pendidikan tinggi. yaa sidang skripsi. bagaikan momok yang menghantui hari hari indah mahasiswa, kehadirannyapun tak luput dari berbagai serangan psikosomatik. hmmm


Tema skripsi sendiri sebenarnya saya sudah persiapan banyak sekali tema. mulai dari anak indigo di awal kuliah dulu, otaku, cosplayer, hingga gay. bahkan ditengah proses pembuatan skripsi muncul ide tema lainnya, yaitu fujoshi. tapi apalah arti semua tema itu jika pada akhirnya lebih mengesampingkan

Senin, 27 April 2015

Teruntuk Kamu yang Di Sana - part 4

Teruntuk kamu yang di sana
hai lagi, apa kabar?
masih bahagia kan :)

teruntuk kamu yang di sana
ah aku masih menuliskanmu 
kamu yang ada di kesadaran dan ketidaksadaranku

teruntuk kamu yang di sana
sudah bosankah dengannya?
bukankah kamu mudah bosan? 

teruntuk kamu yang di sana
kamu yang menjadi pinjaman kesana kemari
tidakkah lelah dan ingin kembali?

teruntuk kamu yang di sana
kau tau tempatmu kembali kan?
iya aku
karna kau selalu kembali kepadaku

teruntuk kamu yang di sana
ah iya! 
bagaimana bila kau tak kembali padaku?

teruntuk kamu yang di sana
bila kau tak kembali padaku,
bagaimana bila kujodohkan anakku dan anakmu nanti?

teruntuk kamu yang di sana
bila anak kita tak berjodoh,
bagaimana bila anakku kunamai namamu?

teruntuk kamu yang disana?
ah mungkin lebih baik bila kau dan aku saja
sehingga tak ada perjodohan antara anak kita, 
tapi cukup kita

teruntuk kamu yang di sana
tertawakah kau membacanya?
karna aku mencoba melawan arus air kita

teruntuk kamu yang di sana
meski saat ini aliran air kita kembali terpisah
aku mencoba menjadi ikan yang melawan arus
untuk dapat berenang mengikuti arusmu

teruntuk kamu yang di sana
awan masih putih, langitpun masih biru
pun denganku masih menunggumu (lagi)

teruntuk kamu yang di sana
ya hanya untuk kamu yang di sana
seorang yang hadir di kesadaran dan ketidaksadaranku


teruntuk kamu yang di sana
Denny Cessario Sutrisno :)

Minggu, 26 April 2015

Pamer atau menunjukkan eksistensi


Selamat malaaam. hari ini saya baca semua coretan dari salah seorang teman di sebuah sosial media,
yaa sebetulnya tulisan semacam itu udah sering ada, cuman karna baca lagi dan merasa tergelitik akhirnya coret coret lagi deh disini ~~

jadi, disitu di bahas ...........
 "orang yang udah dewasa itu kalo pacaran nggak mau nunjukin di depan umum, nggak banyak drama" 
ya kurang lebih gitulah intinya. lalu dimana permasalahannya?

pro kontra siiih, disatu sisi saya setuju aja dengan pernyataan macam itu.
Setuju dengan alasan, iya udah dewasa pacaran bukan ajang buat pamer kemesraan dll, pacaran untuk tujuan yang lebih serius, yaitu pernikahan. ya meskipun di dalam agama saya nggak mengenal istilah pacaran. betul kaan :)

nah tapi yang ganjel lagi gini,
masalahnya kalo pacarmu ditutupin terus kapan kamu mau memunculkan eksistensinya? nanti kalo tau tau udah nikah?
emmm sebagai seorang wanita tentu saya nggak mau doong digituin, siapa yang mau?
simpel sih, karna nggak semua orang mau disembunyiin apapun tujuannya. kalo emang katanya sayang, serius, knapa nggak dikenalin ke orang terdekat misalnya, kenapa masih harus ditutupin?
nah terlebih lagi sekarang banyak orang yang semacam memanfaatkan istilah "selama janur kuning belum melengkung mah masih bisa ditikung" 

hahaha pengen ketawa aja sih karna dulu juga salah satu penganut istilah itu ._.

tapi juga itu balik ke individunya, kalo emang serius emang niat menuju janji suci, kenapa bisa tertikung? iya kan? hehehe ^^v

okey, balik lagi ke masalah tadi.
emmm mungkin maksudnya nggak mau nunjukin di depan umum lebih ke gimana menyikapi sikap diri dan pasangan ketika di depan umum. yaa ketika dewasa sudah bukan lagi waktunya mengumbar kemesraan gitu kan yaa
tapi balik lagi, seberapa kamu menghargai pasanganmu dengan menunjukkan eksistensinya?

karna yang kita tau, manusia pasti ingin keberadaannya diakui kan? dalam hal apapun itu tentunya, apalagi menyangkut "separuh diri"

nah jadi seperti itulah opini dari diri saya,
anooo ini juga bukan curhatan pribadi loooh, cuman pandangan aja gituuu ._.

sekian dan terimakasih ~~~
selamat malaaam ^^v

Selasa, 21 April 2015

Bermusik, Lebih dari Sekedar Eksistensi

Bermusik dan membentuk sebuah band memang bukan hal yang baru di lingkungan sekolah maupun universitas. Kesamaan minat pada jenis musik tertentu, kedekatan antar individu, teman sekampus misalnya, atau sekedar meramaikan acara menjadi alasan band tersebut terbentuk. Tidak hanya mengembangkan hobi, beberapa “musisi kampus” juga bertujuan mengumpulkan uang dan meraih kesuksesan di dalam maupun di luar kampus. Berbagai aliran dan jenis musik berkembang diantara para penkmat musik di lingkungan kampus.
Cap negatif kerap diberikan dosen maupun mahasiswa lain pada mereka yang bermusik di kampus. Menjadi tidak terawat, sering bolos karena band yang sudah terkenal, hingga lupa kewajiban belajar kerap kali dilabelkan pada mereka yang sebenarnya kreatif ini. Padahal, bisa jadi merekalah yang akan membanggakan almamaternya, meski bukan dengan jalur ilmiah.

Kelekatan antar personil, komitmen awal membentuk, tujuan bersama, dan dukungan dari orang sekitar mempengaruhi bertahan atau tidaknya band yang berasal dari lingkup kampus. Bila bermusik dikampus dilanjutkan dengan komitmen serius, tak jarang meski kuliah berakhir mereka tetap eksis dan terkenal. Bermusik juga mampu menjadikan penghasil rupiah bagi yang menggelutinya, meski kita tau di Indonesia sendiri profesi ini tidak menjanjikan.


--> Tulisan gagal terbit di media massa~~~~  

Minggu, 19 April 2015

Hei! aku kangen

"aku kangen kamu" *send .....
" :) "
.....................................

"kamu apa kabar? gimana pacarmu sekarang? kamu nggak kangen aku apa? aku kangen loooh sama kamu..." send ....
"aku juga kangen kamu ({}) "
"yaudah aku ke rumahmu yaa, biar bisa ketemu kamu, boleh?"
"aku sibuk huhuu kapan-kapan aja aku ke tempatmu yaa..."
"ah kapan itu kapan nggak jelas"
" :)"
" yaudah deh, udah biasa nahan kangen sampe lecek"
"({})"
.................................................

Selasa, 07 April 2015

Teruntuk Kamu yang Di Sana - part 3

Teruntuk kamu yang di sana,
apa kabarmu?
bosan ya mendengar pertanyaan ini dariku?


Teruntuk kamu yang di sana

bagaimana harimu? secerah musim semi bertabur sakurakah?
karna hariku gelap seperti cuaca akhir akhir ini


teruntuk kamu yang di sana

seberapa lebar senyumanmu hari ini?
masih indah dan memikat hati bukan?


teruntuk kamu yang di sana

bagaimana separuh barumu?
sudahkah kau temukan?
aku belum.....


teruntuk kamu yang di sana

baikkah dia denganmu?
akan kupatahkan badannya jika menyakitimu


teruntuk kamu yang ada di sana

jika kau pilih dia,
bisa apa aku yang hanya bisa menyebut namamu dalam setiap sujudku?


teruntuk kamu yang di sana

coretan ini masih tentangmu
dan akan selalu tentangmu


teruntuk kamu yang di sana

kau tahu tidak?
jamku berhenti lagi seperti saat itu


teruntuk kamu yang di sana

bagaimana setelah kau buka peti hartaku?
ah ku kira kau akan membawanya selamanya


teruntuk kamu yang di sana

bagaimana arus airmu sekarang?
mengalirkan ke aliran yang lebih besar?
apa aliran kita kembali terpisah?
tidak selamanya bukan?


teruntuk kamu yang di sana

kapan kau menyiram bungaku lagi?
sudah sangat layu dan hampir mati


teruntuk kamu yang di sana

bukankah seharusnya kita berjuang bersama?
menuju satu laut bersama, bukan terpisah


teruntuk kamu yang disana

kau tau,
sepertinya cuaca mendukungku
dengan awan gelap dan curahan air dari langit
kau pasti tidak tau


teruntuk kamu yang di sana

sampaikan salamku untuknya, separuhmu yang kau cari,
jika mungkin itu bukan aku


teruntuk kamu yang disana

bagaimana jika Tuhan menunjukku menjadi separuhmu?
bagaima bila sebaliknya?


teruntuk kamu yang disana

berapa lama lagi aku harus menunggu pangeran berkuda putih itu
ya tentu untuk menyalakan waktuku lagi


terntuk kamu yang di sana

kamu yang selalu akan menjadi inspirasiku, orang keempat dalam hidupku,
nama yang terpatri dalam ketidaksadaran dan kesadarank
jiwa yang haus akan kebebasan dan petualangan
sosok yang hanya mimpi indah bila mampu kegenggam


teruntuk kamu yang disana

iya hanya kamu yang ada di sana
di sudut kecil sel otakku yang tak mampu terpecahkan


teruntuk kamu yang di sana

teruntuk kamu yang di sana
teruntuk kamu yang disana
LIHAT AKU MASIH DI SINI SELALU ADA UNTUKMU