SENJA DAN FAJAR PART 2
By : KirieHazuki
Chara :
Sho Hirano, Nagase Ren, Takahashi Kaito (mr king),  Akira Minami (OC)
Ini adalah ff labil dari fans labil Mr King, ff tribute to temen kantor saat kita lagi liat senja bersama *cieeh*. Selamat menikmati. Semoga tak ada yang tersakiti….


*********
"Minami chan, maukah kau menikah denganku?" Sho mendadak 

"uhuuuk uhuuuuk" kaget, minami tersedak mi soba yang tengah asik dimakannya 

"ah gomeen gomeen... ini minum dulu .. ". Minami meneguk air putih yang diberikan Sho, dengan halus Sho meneuk punggung kekasihnya itu agar tidak lagi tersedak. Minami tersenyum lebar, meniyakan ajakan halus dari Sho. Setelah 2 tahun bersama, dua orang yang sama sama dipanggil sensei ini akhirnya memutuskan menuju kehidupan yang berbeda.

Senja berlalu begitu saja, Sho dan Minami duduk dipinggir pantai sambil menikmati bir selepas makan soba di warung kecil dipinggir pantai. langit orange, desiran ombak, burung yang berterbangan, anak anak kecil berlarian dipinggir pantai sambil menggirin bola.


********** 
Persiapan ujian masuk universitas menyelimuti sekolah Minami. tambahan pelajaran secara privat yang diberikan pada Takahashi kaoti juga masih berjalan biasa. Minami cukup bangga pada murid didikannya itu karena perlahan nilainya semakin naik, padahal sebelumnya Minami tau Kaito bukanlah termasuk murid yang pintar. motivasinya masuk Hokaido University di jurusan psychology education  sepertinya memang membuat muridnya itu lebih bersemangat untuk jadi pintar. 

"Sumimasen.. Akira sensei..." seorang gadis berkuncir kuda dengan poni yang sangat manis masuk ruang guru dan menuju meja Minami. Yoshida Chika, muridnya juga, salah satu siswa pintar yang selalu masuk rangking 10 besar paralel. 

"Iya Yoshida san, ada yang bisa sensei bantu?", Akira merapikan pekerjaannya, takut ketahuan soal latihan yang akan diberikannya esok hari. 

"Ano, sensei, bolehkan aku ikut pelajaran tambahan yang sensei berikan pada Kaito kun?" malu-malu Yoshida menundukkan kepalanya sambil tangannya menggenggam erat rok yang dipakainya.

"tentu saja, kenapa tidak?" Minami tersenyum lebar pada anak muridnya itu, "datanglah ke rumah sensei, Kaito selalu belajar di rumah sensei setiap hari sepulang sekolah. kau bisa bergabung kapanpun kau siap. "

"Hmmm jadi sensei, kenapa sensei dulu menjadi guru?"tanya kaito sambil memutar mutar punsilnya di tengah pelajaran tambahan privatnya dengan Minami

"Karna aku suka kota ini, aku suka suasana pantai, dan aku suka kehidupan SMA hahaha..."

"bohong kan sensei? sensei kan sangat pintar, aku dengar sensei dapat tawaran menjadi dosen di universitas sensei dulu, kenapa lebih memilih di sini? aku aja mau pergi ke Hokaido..." Kaito masih asik memainkan pensilnya, 

"Sudahlaaah.. ayo ktia lanjutkan pelajaran bahasa Inggrisnya. hmmm mana yaaaa.... ah ini, coba kamu baca dan jelaskan maksudnya pada sensei." Minami tak mau membahas pertanyaan Kaito, ia mengalihkan dengan mencari soal untuk dibahas bersama 

sreeet... pintu kamar  terbuka, ibunya masuk, memberi tahu kalau ada gadis manis yang mencarinya. Segera Minami menjemput gadis itu di pintu depan, membawanya masuk ke kamarnya untuk belajar bersama.

"Ah, Chika?" Kaito kaget Minami membawa masuk Chika, antara kaget, bingung dan sedikit kesal Kaito cepat-cepat membereskan bukunya dan berpamitan. Minami bingung, mungkin salah juga dia lupa memberitahukan Kaito kalau Yoshida Chika akan bergabung bersama mereka.

"Sudah kuduga.." Chika menunduk lemas masih di depan pintu kamar Minami. merasa bersalah, diajaknya duduk, Minami siap mendengarkan masalah yang terjadi antara dua muridnya itu. Seingat Minami memang keduanya tidak terlalu dekat, jadi ia pikir tidak akan ada masalah bila Chika ikut belajar bersama Kaito, namun sepertinya ia salah. 

"Aku dan Kaito kun sudah berteman sejak SMP, kami sangat dekat sensei. tak hanya itu kami juga selalu bersaing masuk 10 besar paralel di sekolah selama SMP. tapi ketika masuk SMA kami ada di kelas yang berbeda. awalnya kami juga masih sangat akrab, tapi entah kenapa sejak aku dekat dengan Jinguji senpai, Kaito kun menjauhi ku sensei. padahal aku juga tidak melakukan apapun, aku masih ingin berteman dengannya. bahkan ketika Kaito dekat dengan Hazuki san pun aku tak masalah, tapi justru kami semakin jauh.aku tidak tau jika Kaito begitu ingin menjauhiku seperti itu sensei. Gomenasai sensei tidak memberi tahu sensei masalah ini" Chika masih tertunduk lesu setelah menceritakan masalahnya dengan Kaito.

Minami tak banyak berkomentar tentang masalah muridnya itu, ia hanya mendengar semua yang dirasakan Chika dan membawa Chika mencari jalan keluarnya sendiri.

Minami mengantar kepulangan Chika sampai tempat menunggu bus, sambil berjalan pulang ia meilhat sosok Kaito asik bermain di taman bersama kucing liar yang mungkin ada di taman. 

"Takahashi kun?" Minami mendekat, berupaya agar tidak mengagetkan Kaito

Kaito yang masih asik bermain bersama kucing yang ditemuinya. masih berseragam sekolah dan masih dengan tas berisi buku-bukunya. Minami menceritakan apa yang diceritakan Chika, bagaimana Chika berekspresi ketika bercerita. Kaito masih menunduk sambil mengelus kucing yang ditemuinya. Minami tau sesekali Kaito tersenyum mendengar ceritanya. Belum selesai mendengar dari versi lelaki di hadapannya, Minami justru ditinggal oleh Kaito. Minami tersenyum, yaaa keindahan percintaan anak remaja, pikirnya.

Minami menyeruput susu kotak rasa strowberry yang dibelinya di toko 24 jam dalam perjalanannya pulang. berjalan sambil asik bermain game hp, langkahnya dikagetkan suara klakson mobil. Sho hirano, kekasihnya muncul dalam sedan putih, menawarinya tumpangan pulang. yaa meski jarak rumahnya tidak begitu jauh lagi. 

"Dari mana malam malam seorang gadis cantik sendirian?" sambil tersenyum Sho melirik bayangan Minami dari kaca spion mobilnya, sengaja ia memelankan lau mobilnya agar bisa lebih lama bersama Minami 

"Aku mengantar muridku, sekalian ini hehehe" memamerkan minuman favoritnya ke Sho, sontak Sho mendekatkan mulutnya, ikut menyeruput sedotan dari susu kotak yang dibawa Minami. 

"Sho awaaaaas!!!!" 

ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttt.... brrrrruuuuuuuuuuuk ......

Sho menerem mobilnya mendadak, tapi terlambat. seorang di depannya sudah jatuh dengan sepeda di sampingnya. Mereka keluar, mengintip siapa yang naik sepeda selarut ini di tengah jalan. 

Nagase Ren. 

Sudah tak sadarkan diri, darah mengalir pelan dari dagunya, Sho mengangkat Ren, memasukkannnya ke mobil, membawanya cepat ke klinik tempatnya bekerja.


Minami tak pulang ke rumah, ia sengaja menunggu Ren sadar hingga pagi, malangnya Ren tak sadarkan diri juga. Sho-pun sama, ia menginap di klinik berjaga-jaga bila tiba tiba Ren bangun.

Dua hari berlalu dan Ren masih belum sadarkan diri. Minami masih bolak balik sekolah-klinik untuk mengecek keadaan Ran, bahkan melibutkan kegiatan mengajarnya pada Kaito dan Chika. Sho pun karena rasa bersalahnya masih terus memberikan perawatan terbaik bagi korbannya itu.
Minami masih bermalam menemai Ren, entah ada sudut dari dirinya yang merasa sangat mwngenal orang yang masih tertir pulas di hadapannya. Senja terpancar dari balik jendela, masuk melalui celah celah menyinari tubuh tak berdaya Ren.

Ren menggerakkan sedikit jarinya, cepat cepat Minami menggil Sho untuk memeriksa keadaannya. Tak lama perlahan matanya terbuka, tampak berat menahan luka di bagian kakak kepalanya  luka di tangan dan kakinya memang tak parah, tp cukup membuatnya kesakitan.

"Ren... reeeen....." minami mendekatkanbadannya ke badan Ren "yokattaaa... akhirnya kau sadar Ren", tanpa sadar setetes air mata menetes dari mata sipit gadis itu.

Sho bingung, tak paham seberapa kenal Minami dengan lelaki itu dan kenapa Minami begitu panik dan mau menghabiskan waktunya untuk Ren.

Ren hanya tersenyum melihat tingkah Minami di depannya.

.

"Jadi, apa yang tak ku tau antara kau dan Ren?," Sho masih saja memainkan sendok nasi karinya, belum sesuappun ia makan, berbeda dengan Minami yang masih asik makan secara perlahan

"Kau curiga dengan Ren?", masih sibuk mengunyah katsu nya

"Entahlah...."

"Ayolah Sho, kau kan tau aku dan Ren hanya bertemu sesekali di asosiasi pariwisata laut, dan.... kebetulan sering bertemu di pantai"

"Hanya itu? Dia bukan Ren........" sho menghentikan kalimatnya, menatap dalam mata kekasihnya

"Sho ......... kalau dia Ren yang dulu, memangnya kenapa? " lahapan makan Minami terhenti, sendok sudah diletakkan meski masih ada setengah porsi yang belum tersentuh. Ada perasaan kesal pada dirinya tiap kali Sho mengungkit Ren, teman masa kecilnya yang tak pernah lagi kembali.

“Gomenne Minami chan ....”Sho mengelus pelan rambut Minami sambil tersenyum menatap wanita yang akan menjadi labuhan terakhirnya itu. Tak mungkin ia terang-terangan mengatakan kalau ia cemburu. Mereka sudah sangat lama bersama, bagaimana mungkin ia bisa cemburu pada orang baru yang bahkan dirinya saja tak yakin.

*********

“Ohayoo Minami san... menikmati fajar lagi sendiri? Kau tak ada kelas hari ini?” Ren menghampiri Minami yang asik duduk di pasir memandang fajar dan lautan, masih berseragam pakaian olahraga lengkap dengan sepatunya.

“Ini kan hari minggu, Kaito dan Chika juga tidak ada pelajaran tambahan hari ini ...” Masih memandang ke laut Minami menjawab sapaan Ren yang tiba tiba datang. Seuatu kebetulan yang berulang terjadi, sejak hari kepindahan Ren ke kota itu mereka selalu tak sengaja bertemu di pantai di pagi hari, diantara sinar matahari fajar yang menusuk tulang.

“Sepertinya kau sedang ada banyak pikiran? Baiklah akan ku tinggalkan kau sendiri kali ini... bye..............” belum sempat meninggalkan Minami, langkahnya terhenti oleh tangan Minami yang menahan celananya

“duduklah, kita bisa memandang laut bersama...”, tak menolak, Ren menempatkan dirinya duduk di samping Minami, melipat kakinya sambil memandang ke langit.

“Sho ada tugas di Sapporo 6 bulan ke depan. Haaaa aku pasti kesepian hahahhaa”

“heeem?”

“tak apa hehe. Mau mampir ke rumah untuk sarapan?”

“bila tidak merepotkan akan sangat menyenangkan, sensei hahaha ...”

.

“Tadaimaa... okaasan, aku bawa tamu ...”

“okaeri.. ah, sepertinya wajahnya tak asing..” orang tua Minami coba mengingat-ingat siapa lelaki yang dibawa pulang Minami ini tapi tak berhasil

“konnichiwa, Nagase Ren desu. Anoo saya bekerja di asosiasi pariwisata laut sejak beberapa hari lalu” Ren memperkenalkan dirinya dengan sangat sopan

“bukaan bukan, sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya jauh sebelumnya dimana yaaa hmmm ah sudahlah, Minami bawa Ren masuk sarapannya sudah siap yaa..”

“Haiiiiik >.<”

.

“Jadi, kenapa Ren ingin tinggal di kota ini?” Minami membuka percakapan sambil menyiapkan orange jus dan beberapa snack untuk Ren

“Aku suka laut, ada sesuatu yang menggelitikku untuk pergi ke kota ini dan saat aku tiba di sini aku jatuh cinta begitu saja dengan semua hal yang ada di sini, seolah aku sudah lama mengenal tempat ini hehehe..” Ren memutar matanya, melihat sekeliling ruang santai rumah Minami, dilihatnya sebuat tumpukan album foto. “Boleh aku lihat-lihat ituu?”langsung saja dia menunjuk kumpulan album foto yang tertata rapi di rak buku

“tentu itu semua foto yang kuambil. Kau bisa santai disini dulu Ren, aku akan mandi dulu yaa”, Minami meninggalkan Ren sendirian.

Ren sibuk melihat semua koleksi foto Minami, dari foto pantai dan langit dari fajar hingga senja dengan jumlah yang sangat banyak, foto setiap sudut kota, muridnya di sekolah, hingga foto warga kota. Pandangannya berhenti di sebuah foto siluet seorang pria di pinggir pantai. Sosoknya tak asing bagi Ren. Beralih ke album foto masa kecil Minami. Begitu ceria, penuh senyum, dan sangat imut Minami saat kecil. Hampir di setiap fotonya ada foto lelaki kecil seumuran dengannya yang punya berbagai macam ekspresi.

Tiba-tiba saja kepala Ren terasa sangat sakit, tak bisa menahan Ren menjatuhkan album foto yang dipegangnya. Jantungnya berdebar sangat kencang, kepalanya berat, pandangannya kosong. Perlahan memori yang sempat hilang perlahan bermunculan, membuat kepalanya sangat sakit.

“Ren... ren ...?”Minami menggoyangkan pelan tubuh Ren. “Ren? Daijobu? Ren?”, pandangan Ren masih kosong sesaat. Minami masih menggoyangkan pelan badan pria di depannya itu..

Ren perlahan sadar, nyeri mendadak di kepalanya perlahan membaik, bayangan samar yang tiba tiba muncul juga menghilang. Tak mau menghawatirkan Minami, Ren berpamitan pulang. Langkahnya masih pelan, berjalan pelan menyusuri jalanan menuju tempat tinggalnya yang tak jauh dari pantai. Langkah kakinya terhenti di pinggir pantai, kepalanya kembali terasa berat, bayangan masa lalu yang pernah hilang perlahan kembali muncul mengisi setiap celah otaknya.

*********

Sudah seminggu sejak Minami membawa Ren ke rumahnya, ia tak bisa menemui pria itu lagi. Baik di asosiasi pariwisata laut, pantai, bahkan di kios ramen yang sering Ren kunjungi juga tak pernah terlihat. Minami merasa aneh dan khawatir. Terlebih sudah seminggu pula Sho sangat sibuk di Sapporo sampai tak sempat menghubunginya sama sekali.
“Sensei,.. sensei ...” Suara Takahashi Kaito membuyarkan lamunan Minami. “Ini tugas kelas yang harus di kumpulkan. Sensei baik saja?”

“ah iya taruh saja, nanti sensei koreksi.” Minami tersenyum, tak ingin muridnya tau ia sedang melamun.

“baiklah, aku pamit dulu sensei ...”

Minami cepat mengoreksi tugas murid muridnya sekalian menghilangkan rasa khawatirnya. Sengaja memang ia pulang terlambat. Sekolah sudah sepi, langit mulai gelap, Minami berjalan perlahan menyusuri lorong keluar dari sekolah.

Perjalanan pulang yang terasa sangat lama tiba tiba berubah bagi Minami. Sosok Ren kembali dilihatnya dipinggir pantai, sebuah senyuman manis mengembang dari dirinya tanpa sadar.

“Aw minami chan, baru pulang?” Ren tiba tiba menghampiri Minami, senyumannya beda dari terakhir kali mereka bertemu, Minami merasa Ren bukanlah Ren yang baru dikenalnya, Ren yang baru pindah ke kotanya. Keduanya berjalan bersama, menuju kedai Ramen Shigekii. Seminggu tak bertemu bagai berbulan tak bertemu, rasanya ada yang aneh dengan keduanya saat iini.

*********

Tiga bulan sejak Sho tugas di Sapporo dan sama sekali belum menyempatkan diri kembali menemui Minami, kali ini mungkin Sho benar benar sibuk sebagai dokter di sana. Meski tak rutin mengirim kabar pada Minami, tapi keduanya saling percaya satu sama lain untuk menjaga hati. Ren masih menjalankan tugasnya sebagai pengganti Sho di dekat Minami, bukan karena permintaan siapapun, tapi dari hati kecilnya yang merasa harus.

Hari demi hari mereka lalui bersama, kedekatannya keduanyapun bertambah. Sesekali Minami mampir ke apartemen Ren, pun sebaliknya Ren mampir ke rumah Minami untuk menikmati makan malam bersama keluarga Minami. Ren juga tak segan untuk ikut lari pagi bersama Minami setiap harinya, bahkan ketika waktu luangnya berlebih ia ikut membantu Kaito dan Chika belajar sebagai persiapan ujian masuk Universitas.

Seperti hari ini, keduanya sepakat mengajari Kaito dan Chika dengan suasana baru. Belajar di kafe yang baru dibangun di dekat pantai, alasan Chika untuk mencari situasi baru. Hubungan Chika dan Kaito yang juga perlahan membaik membuat proses belajar menjadi menyenangkan dan tidak lagi tegang seperti sebelumnya.

Minami dan Ren keluar kafe bersama, Ren mengantar Minami pulang ke rumahnya dan mengiyakan untuk mampir karena memang hari masih siang. Berdua berjalan perlahan sambil masih asik mengobrol. Perjalanan terasa sangat singkat karena keasikan mengobrol.

“Kau imut ya saat kecil, siapa yang menyangka kalau saat dewasa akan menjadi seperti ini hahahaha” Ren menggoda Minami sambil kembali melihat album foto masa kecilnya.

“berisik...” Minami mengunyah kripik kentang rasa rumput laut sambil masih membaca manga yang baru dibelinya, membiarkan Ren menjelajahi kenangan masa kecilnya.

“pria kecil ini, dimana ia sekarang?”, pertanyaan Ren menghentikan kunyahan Minami. Ditelannya semua kripik kentang yang sedang di mulutnya secepat mungkin.

“sudah sudah kau tak perlu menjawab, kau pasti tak ingin menjawabkan, gomenn ...” Ren tanpa sadar mencubit pipi gadis itu, kaget Minami hanya bisa diam dan mencari minumnya. “Ngomong-ngomong, Sho apa kabar? Dia tidak ada hari libur untuk mengunjungimu kemari yaa?” Ren melirik cincin yang melingkar di salah satu jari lentik Minami.

“Entahlah Ren, dia sangat sibuk akhir akhir ini. Kemarin dia cerita dia dapat pasien istimewa, gadis kecil yang mengidap gagal jantung yang harus menunggu donor jantung”

“Minami....?”

Cuuuuuuuuuuuuuuuuup...

Ren tiba tiba mencium bibir Minami, kaget, Mianami hanya bisa diam dan menatap pria itu, cincin dari Sho yang dipakainya tiba tiba lepas. Hatinya berdegup sangat kencang

“Gomenn.. aku harus pulang.. “ Ren menata apa yang telah ia kacaukan, mengambil barangnya dan beranjak untuk pulang. “Sampaikan salamku untuk orang rumah, byee “ Ren berpamitan cepat sambil tersenyum.

*********

Sho berencana membuat kejutan atas kepulangan dadakannya untuk Minami, bunga dan sekotak coklat sudah disiapkan untuk kekasihnya itu. Memang ia hanya mendapat cuti 2 hari, tapi ia sangat ingin bertemu Minami setelah 3 bulan tak bertemu. Tapi sepertinya alam memberi jawaban lain. Hatinya mendadak sesak dan sakit.

Dari seberang kafe baru di kota dilihatnya Minami keluar bersama Ren, berdua, saling tertawa bahagia dan berbincang sepanjang jalan. Perlahan Sho mengikuti mereka. Langkahnya terhenti ketika keduanya masuk rumah Minami. Sho menunggu cukup lama untuk melihat apa yang terjadi antara keduanya.

Bunga dan coklat yang dibawanya sepertinya hanya akan sia-sia saja. Sho kehilangan rencananya memberi kejutan pada Minami. Ia hanya menunggu Ren keluar dari rumah kekasihnya. Hatinya semakin tak bisa menahan saat melihat Ren keluar dengan senyum bahagia. Pikirannya melayang membayangkan apa yang mereka lakukan di dalam. Susah untuk mengusir pikiran itu dari kepalanya.

Sho masih mengikuti langkah Ren, membiarkan Ren masuk apartemennya, beberapa menit lagi Sho akan masuk, pikirnya dalam hati.

Suara bel pintu Ren berbunyi, Ren membuka pintu dan kaget melihat sosok Sho berdiri di sana, lengkap dengan bunga dan sekotak coklat.

“Masuklah, maaf apartemenku sangat sempit. Kau mau ocha?” Ren mencoba bersikap wajar, ia tau ada yang tidak beres dengan kedatangan Sho ke tempatnya. Pasti tentang minami, pikirnya dalam hati.

“terimakasih” jawab Sho sambil membenarkan posisi duduknya.

“Jadi, kau sudah sejauh mana dengan Minami?” Shoe langsung menuju titik permasalah, tak ingin berlama-lama mencari jaawabannya

“apa maksudmu Sho?”

“aku melihat kalian tadi, dan mengikuti lebih tepatnya”

“ini tak seperti yang kau bayangkan Sho tenanglah”

“Bagaimana aku bisa tenang jika melihat kekasihku terlihat begitu bahagia dengan pria lain?”

“Sho, sebenarnya.... aku hanya ingin membayar kepergianku secara mendadak pada Minami beberapa tahun lalu” Ren menundukkan kepalanya, merasa sangat ebrsalah pada apa yang telah terjadi

“maksudmu?”

“iyaa.. aku Ren teman masa kecil Minami yang meninggalkan kota ini dan tidak lagi memberi kabar pada Minami setelahnya”

“hah?” Sho masih bingung dengan yang dibicarakan Ren

“17 tahun lalu, saat aku meninggalkan kota ini untuk ikut orang tuaku saat usia kami 8 tahun aku pindah ke Osaka. Tapi suatu hari saat perjalanan wisata keluarga ke Kyoto mobil yang dikendarai ayahku menabrak dan hanya aku yang selamat. Aku dirawat dan diadobsi oleh keluargaku yang sekarang, mereka adalah teman dekat ayahku. Tapi saat itu aku kehilangan ingatan masa kecilku. Tiga bulan lalu, aku baru mengetahui semuanya saat aku membuka album foto di rumah Minami dan setelahnya aku kembali ke Osaka untuk mencari tahu semuanya. Orang tuaku menceritakan dari awal, semua kejadiannya lengkap. Dan saat itu juga aku merasa sangat sangat bersalah meninggalkan Minami tanpa kabar, tanpa ia tahu semua yang terjadi.” Ren menunduk lemas, diam untuk sesaat

“dan aku pikir saat inilah aku harus menebus kesalahanku pada Minami sebelum pada akhirnya kalian harus menikah, gomenn ... kau boleh memarahi, memukul, atau apapun yang kau inginkan padaku”

Sho diam mendengar semua cerita Ren. Pikirannya ternyata selama ini benar. Ren yang dari awal pertemuannya dengan Minami selalu dibanggakan, Ren teman masa kecil Minami yang begitu sulit untuk tergantikan.

.

Sho melangkahkan kakinya perlahan, rencana indah yang sudah ia siapkan untuk Minami dibatalkan begitu saja. Hari itu juga ia memutuskan kembali ke Sapporo. Memutuskan bertemu Minami 3 bulan lagi saat tugasnya sudah benar-benar selesai.

*********

6 bulan masa tugas Sho di Sapporo berakhir, Sho kembali ke kota Minami, keduanya kembali bersama setelah terpissah cukup lama kali ini. Sho memang tak menceritakan jika 3 bulan lalu ia datang dan melihatnya bersama Minami. Minami juga sama, tak banyak menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Ren.

Persiapan pernikahan keduanya sudah hampir 90%. Rencananya pernikahan akan diadakan bulan Mei. Minami sudah jarang bertemu Ren. Ia tak mau hatinya bimbang ketika Ren dan Sho ada disaat bersamaan. Ia sudah cukup bahagia dengan keberadaan Sho disisinya selama ini.

.

Hari pernikahan yang tinggu tiba, Minami siap dengan gaun pengantinnya yang begitu indah. Kaun pengantin berupa Kimono putih dengan aksen warna jingga sesuai warna langit favoritnya. Dandanan yang begitu cantik, ruangan pernikahan yang sudah disiapkan dengaan hiasan bungan lili dan mawar putih. Undangan yang memang tidak banyak, hanya beberapa kerabat dan teman dekat yang sengaja diundang. Minami masih di ruang persiapan, sedari pagi ia belum melihat Sho, cukup aneh menurutnya karena semalam keduanya masih bisa makan udon bersama.

“Sensei...” seorang gadis cantik masuk ke ruangan menyapa gurunya itu

“Chika chaaaan.... terimakasih kau sudah jauh jauh datang dari tokyo.”

“uhm.. demi sensei looh hehehe. Omedeto ya sensei. Akhirnya Akira sensei menikah.aku turut bahagia”

“terimakasih ya cantik.. selamat juga kau bisa masuk fakultas kedokteran pilihanmu. Dan selamat juga untuk Kaito kun” Minami tersenyum manis.

“Minami chan... sudah waktunya...” Ibu Minami muncul mengisyaratkan pernikahan segera dimulai. Minami memasuki ruangan pernikahan dengan begitu anggunnya. Semua mata undangan tertuju pada sosoknya yang cantik, kimononya yang indah, juga dandanannya yang begitu sempurna. Minami masih belum menemukan sosok Sho disana. Pikirannya mulai panik memikirkan apa yang terjadi dengannya.

Kreeeeeeeeeeek...

Pintu ruangan terbuka. Seorang pria cukup tinggi memasuki ruangan, sosok yang membuat semua undangan kaget, terlebih Minami. Setelan jas berwarna putih dengan hiasan bunga di saku atas. Berjalan perlahan menghampiri Minami yang sudah siap mengucap janji suci.

“Minami chan, ini titipan dari Sho”, Ren. Pria itu menyerahkan sepucuk surat untuk Minami

Minami chan..

Gomenn semua terlalu mendadak dan mengagetkanmu. Aku harus pergi ke Afrika selatan. Ada begitu banyak anak yang butuh bantuanku di sana. Maaf aku tak bisa memberi tahumu sebelumnya. Maaf aku tak bisa jujur padamu.

Aku tau semua tentang Ren yang belum kau tau. Aku tau kalau Ren yang sekarang di depanmu adalah Ren yang selalu ada dipikiranmu sejak 18 tahun lalu. Beruntung sekali dia dia datang saat ini bukan?

Minami, berjanjilah untuk hidup bahagia dengan Ren. Dia orang yang cocok untukmu, kalian sudah dari kecil ditakdirkan bersama. Berjanjilah untuk terus tersenyum bersamanya karena senyummu begitu indah. Maafkan aku tak bisa menjadi fajar dan senjamu setiap hari. Aku terlalu pengecut untuk mengatakannya langsung. Maaf

Aku merestui pernikahan kalian. Berbahagialah.

Bila Ren tak bisa lagi membahagiakanmu, aku akan segera terbang ke Jepang dan merebutmu kembali.

Terimakasih untuk selama ini,bidadariku...

Kau akan terus melihatku diantara fajar dan senjamu.

Salam,
Hirano Sho

Minami meneteskan air matanya setelah membaca surat Sho. Kenapa? Bagaimana bisa? Apa yang tak ia ketahui? Mengapa mereka menyembunyikan ini darinya? Pertanyaan yang masih berputar di otaknya.

“Minami chan, maukah kau menikah denganku?” Ren menyodorkan sebuah cincin di hadapan Minami. Tak bisa berkata apa-apa Minami mengiyakan ajakan Ren sesuai surat yang ditulis Sho.

“Tadaima Minami chan, gomenne aku pergi terlalu lama” Ren memeluk Minami kencang

*********

TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar