*Prolog

Perkenalkan, namaku Ito Hikari. Ibuku orang Indonesia, sementara ayahku dari Jepang. Kini ayahku kembali tugas di Jepang jadi yaa mau tak mau aku dan ibuku ikut pindah ke Jepang. Bahasa Jepangku? jangan ditanya hehee. orang tuaku mengajarkan bahasa Indonesia, Jawa dan Jepang sejak aku kecil jadi aku siap untuk ke Jepang kapanpun.


Chara :
Matsumura Hokuto, Kyomoto Taiga, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo (SixTONES), Ito Hikari, Shinku Lee, Hanabishi Kiri, Midorin (Original Character)


*********

“Waaa sudah lama yaaa kita tidak makan bersama begini. Aku merindukan kaliaaaaan....”

“Taigaa hahaha memangnya berapa lama kita tak makan bersama?” Lee menjawab keluhan Taiga. Sejak kejadian di Shibuya, memang mereka berenam jarang makan bersama. Masing masing sibuk dengan partner barunya. Aku? Shintaro? Haha tidak tidak kami hanya kebetulan bersama karena kejadian hari itu hehehe. Selebihnya kami masih berteman biasa, sesekali Shintaro belajar bahasa Inggris di rumahku.

“Jadi, bagaimana proyekmu dengan Midorin?” Yugo sambil mengunyah bekal yang hari ini dibawa Kiri, biasa, seperti sebelumnya.

“uuum...” Lee tak bisa menjawab, mulutnya penuh dengan katsu yang ia makan.

“Jadi pertunjukannya dua minggu lagi. Pastikan kalian punya waktu untuk datang yaaa” Kiri menjelaskan isi otak Lee.

“Nee nee Hikari chan, Shinchan.. kalian akhir akhir ini sering bersama kaan? Kalian pacaran yaaa hahahaha” Taiga bertanya tanpa basa basi. Apa yang harus kujawab mereka pasti tidak akan percaya dengan yang sebenarnya terjadi hmmmm

“memang kami pasangan yang cocok?” Shintaro tiba tiba mendekat, dan menempelkan wajahnya pada wajahku alih alih untuk melihat kesamaan wajah kami, mungkin.

“Haa Yugo, yang waktu itu ...”Hokuto memotong, dia tak ingin hubunganku dan shintaro dibahas lebih lanjut. Aaa Terimakasih Hokuto hehehe

“Hokuchaaan kenapa kau ungkit lagi” wajah Yugo memerah, melambangkan memang terjadi sesuatu yang spesial kali ini.

“Berapa kali harus ku katakan kalian jangan pernah lagi panggil aku Hokuchan atau pakai akhiran chan” Hoku menaruh sumpitnya, aneh memang tiba tiba dia kehilangan selera makan hanya karena dipanggil Hokuchan ?

“Ah minna gomenn.. aku akan mengejar Hoku, maaf aku tak bisa membereskan makanan kami” Taiga menyelesaikan makanannya, mengejar Hokuto. Aah mereka semakin romantis saja, membayangkannyapun aku tak kuat. Tidak tidak tidak aku tak mau menjadi fujoshi hanya karena mereka.

“Hokutoo.. Hokutooo... “Taiga berusaha berlari mengejar Hokuto. Nafasnya habis karena memang ia jarang olahraga, alasannya sederhana, wajah dan badan cantiknya akan rusak kalau ia kebanyakan mengerjakan hal berat. Hmmm

“Taiga, kau mengikutiku?”

“Kau tau aku khawatir, kau tiba tiba pergi begitu saja. Apa hanya karena panggilan chan itu? Taiga mengatur nafasnya, kalimatnya terputus-putus.

“kau ingat adikku? Semakin Hikari bersama kita, semakin dia mengingatkanku pada Hikari dan aku .......”Hokuto tertunduk di tangga tak bisa menyelesaikan kata-katanya

“gomen.. ini semua salahku dari awal karena aku membawanya masuk ke kelompok kita. Aku tak tau kalau akhirnya akan begini. Gomenn Hokuchan...”Taiga merangkul Hokuto dari belakang, ia tau betul bagaimana Hokuto menjalani kehidupannya setelah kejadian itu, bagaimana Hokuto kehilangan adik semata wayang yang benar benar ia jaga, Matsumura Hikari.

********* 

“nee senpai, teman-temanku menanyakanmu lagi hahahaaku bingung harus berkata apa hahaha?” Yugo dan senpainya, Kumagai Himawari, berjalan berkeliling toko buku mencari buku persiapan masuk universitas.

“Kouchi kun bilang saja apa adanya. Tak masalah bukan?” Kumagai sambil membenarkan posisi kacamatanya, melihat dengan cermat buku yang ia cari

“Jadi, senpai sudah mau menerima cintaku?”

“Kouchi san, berapa kali aku harus bilang padamu aku ini sudah punya pacar, dan dia menungguku di Tokyo University?”

“Tidak ada kesempatan sama sekali?” Yugo masih sibuk mendapat perhatian dari senpainya

“Kecuali kau jauh lebih pintar dari pacarku, mungkin aku bisa mempertimbangkannya”

********* 

Shintaro hari ini kembali belajar di rumahku. Ia sangat lemah pada pelajaran Bahasa Inggris. Beberapa kali ia minta bantuan untuk mengerjakan tugasnya, tapi kali ini tidak bisa karena esok hari ia akan ada ujian bahasa Inggris.

“Hmm kalau soal yang ini bagaimana aku harus menghafalnya Hikachan?” sambil menyeruput teh olong dingin yang disediakan Shintaro menunjuk soal yang belum bisa dia kerjakan.

“Morimoto Shintaro kun, kau jangan pernah samakan pelajaran bahasa dengan Fisika. Kau tidak bisa membuat roket hanya dengan menhapalkan rumus bukan?errrr dan soal ini, kau cukup paki rumus ini, kau hanya perlu mengingat rumusnya, tapi masing masing rumus harus kau isi dengan kalimat yang sesuai”

“Hikari chaaan kau lagi lagi menjelaskan dengan sangat membingungkan. Aaaaaaaaaaaah aku capeeek. Panas sekali kan hari ini.” Shintaro merebahkan tubuhnya ke lantai, berharap dapat sensasi dingin dari lantai yang ditidurinya.

“aku lelah. Akhir akhir ini rasanya tenagaku cepat sekali habis” aku beranjak ke kasur, merebahkan badanku, melihat langit langit kamar dan pikiranku melayang entah kemana.

“jadi, bagaimana mantan pacarmu kemarin? Sepertinya kau sudah tidak pernah membayangkannya lagi yaa?” Shintaro tiba tiba sudah berada di sampingku, wajah kami sangat dekat.

“Shintaro! Sudah kubilang jangan pernah bahas itu lagi” reflek kupukul kepala Shintaro dengan bantal di sampingku.

“Aku bisa baca yang kau pikirkan sekarang looh hahaha. Kau mau itu benar benar terjadi?” Shintaro melempar senyum jahat, sesuatu akan segera terjadi, menyeramkan. Ku balikkan badanku menghadap shintaro yang duduk di bawah tempat tidur, menatap matanya, ada sesuatu yang berusaha disampaikannya, sayang aku tak bisa seperti dia yang mampu membaca pikiran orang lain.

“ada yang mau kau sampaikan yaa?”

“jadi kau sudah bisa membaca pikiran orang lain yaa hahaha” Shin mendekatkan wajahnya padaku, terlihat sedikit berubah warna

“Cepat katakan...”

“kau mau mencoba berpacaran denganku?”

********* 

Latihan antara Lee dan Midorin masih berlangsung. Semua staff yang terlibat merasa sangat puas dengan hasil kerja keras selama ini. Tak hanya sangat menjiwai perannya, Lee juga banyak membantu membuat kontum dan propertinya. Tak salah Midorin memilihnya sebagai partner cosplaynya.

Midorin…” Lee memanggil Midorin yang tengah asik bercanda dengan staf yang lain.

“Iyaa Lee chan? Nande?” Midorin menghampiri Lee sambil tersenyum dengan manisnya

“Ano, kore... otanjoubi omedeto...” sambil menyerahkan kue yang dibuatnya kemarin bersama Kiri, dengan lilin angka 24 yang sudah siap untuk ditiup

“Lee chan.. arigatooo....” Midorin membuat permohonan lalu meniup lilinnya. “Lee, apa setelah ini kau ada acara? Mau mampir ke apartemenku? Akan aku masakkan kau makanan spesial ala chef Midorin. Emmmm ini enak sekali Lee aku ingin menghabiskannya sendiri”

“kebetulan aku kosong sih hehehe”

“Yosh, baiklah ayo kita segera pergi...”Midorin memasukkan kembali kue pienya ke tempat yang disiapkan Lee, berpamitan dan menggandeng Lee menuju mobilnya, membawanya melaju menuju apartemannya. Bukan kali pertama memang Lee ke apartemen Midorin, sebelumnya ia pernah kesana, tapi tak sendirian ada Kiri yang menemaninya.

“Silahkan masuk Lee... duduk sesukamu, anggap saja ini rumah sendiri. Aku akan siapkan masakannya dulu yaa...” asik memasak, Lee menjelajahi ruang baca Midorin. Baru ini ia masuk sampai ruang baca, Midorin memang memperbolehkannya mengintip koleksi buku-bukunya. Lee takjub, ternyata Midorin tak hanya cosplayer keren seperti yang selama ini ia tahu, hobinya juga seru. Koleksi bukunya dari fiksi, non fiksi, buku jepang sampai buku berbahasa asing ada di sana. Pantas saja Midorin sering diundang untuk acara cosplay di luar negri, batinnya.

“Lee, makanannya siap” Midorin memanggil Lee dari ruang makan. Meja sudah dihias dengan cantik. Setangkai mawar di tengahnya, orange jus untuk Lee dan segelas wine untuk Midorin, spagetti napolitan, beberapa potong buah segar, dan masing masing dua scop ice cream tersaji di meja makan.

“waaa Midorin, kau menyiapkan semua ini? Sugoiii... Itadakimasuuu...” Lee menyantap makanannya tanpa basa basi. Midorin masih melihatnya sambil menyanggul kepalanya dengan satu tangan sambil tersenyum.

“emmmm oishiiii... aku tak menyangka kau pintar masak Midorin, bahkan aku sendiri tak bisa masak seenak ini hehehe” masih menyeruput spagetti nya Lee masa bodoh bila makannya belepotan, ia meneguk orange jus yang disiapkan Midorin, rasanya makanan tertahan di tenggorokan.

“Hahaha bisa saja kau ini Lee. Ayo cepat habiskan makanannya, masih ada kue buatanmu yang harus kita makan”

Midorin dan Lee asik makan sambil bercanda, membicarakan apa saja yang bisa dibicarakan. Acara makan berlanjut di sofa ruang TV makan kue pie buatan Lee dengan bantuan Kiri. TV menyala, tapi keduanya tak peduli dengan isi siaran.

“Ah, ada serpihan kue dipinggir bibirmu” Midorin mengambil serpihan kue di bibir Lee. Kini wajah mereka sangat dengan. Midorin bisa melihat wajah Lee berubah warna, merasakan hembusan nafas dan suara degupan jantung Lee.

“Sank....”Belum selesai Lee berterimakasih, Midorin sudah menempelkan bibirnya ke bibir Lee, sedikit memaksa. Lee mencoba melawan. Tapi tubuh Midorin terlalu kuat. Midorin amsih berusaha membangun suasana antara ia dan Lee, ciumannya makin kuat, semakin Lee melawan ciumannya bertambah kuat. Lidaknya memaksa masuk mulut Lee yang sedari tadi coba ditutup. Tangannya menjelajahi badan Lee, membuka paksa kancing kemeja Lee. Lee masih melawan. Midorin semakin keras mencium dan memainkan lidahnya pada rongga mulut Lee, tangannya meremas dada gadis itu. Tak bisa meronta dan melawan, tangan Lee mencoba mencari Hpnya, berharap Kiri ada di sana dan kejadian itu tak terjadi.

*********

Bersambung 

0 komentar:

Posting Komentar